Direction
| STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (VI) |
|
| Written by Doug Lorimer |
|
There are no translations available.
Kontra-revolusi Chiang Kai-shek Sementara itu, situasi bergejolak dipicu oleh kedatangan Kuomintang (kiri) di Wuhan memanas pada tanggal 3 Januari, 1927, yakni dalam sebuah demonstrasi massa buruh yang menyerbu daerah-daerah yang dikonsesikan ke Inggris di Wuhan dan mengusir para pejabat Inggris dari kota tersebut. Pemerintah Inggris, yang terkesan dengan laju kemenangan pasukan Chiang dan jatuhnya para raja-raja kecil yang mereka dukung di Cina Pusat, memutuskan bahwa akan lebih bijaksana bila melakukan konsiliasi dengan Kuomintang ketimbang memusuhinya. Tak ada aksi balasan atas insiden tanggal 3 Januari di Wuhan. Bahkan, seorang diplomat Inggris dikirim dari Beijing untuk melakukan negosiasi dengan pemerintahan Wuhan. Situasi mencapai puncaknya dengan ditandatanganinya sebuah perjanjian pada tanggal 3 Februari yang menyerahkan konsesi Inggris kepada Wuhan dan mengembalikannya di bawah hukum Cina. Isyarat kesediaan Inggris untuk melakukan persetujuan dengan kekuatan nasionalis Cina tujuannya adalah agar dapat merangkul Chiang. Carr mengomentari hal tersebut: ”Satu waktu, di awal tahun 1927, Chiang Kai-shek dihadapkan pada prospek yang menyilaukan antara ambisi pribadinya dengan keinginannya untuk menyatukan Cina Selatan dan Pusat melalui kolusi dengan kekuasaan imperialis, tentu saja dengan mengorbankan kaum komunis, para penasehat Sovyet dan pemenang lainnya dari golongan kiri yang telah lama menderita bersamanya.” (Carr, ibid, hal. 745) Pada tanggal 17 Februari, 1927, tentara Chiang dikalahkan oleh kekuatan Sun Ch’un-fang, tuan tanah yang didukung Inggris dari daerah pesisir provinsi Zhejiang, Hangzhou, sebelah selatan Shanghai. Dua hari kemudian, Serikat Buruh Shanghai dipimpin oleh golongan komunis, yang beranggotakan tidak kurang dari 600.000 buruh, menyerukan pemogokan umum di seluruh kota. Chiang tak melakukan tindakan apapun, dan pemogokan umum diserang secara brutal oleh kekuatan Sun yang masih menguasai kota. Dalam sebuah pidatonya di depan para mahasiswa Akademi Komunis di Moscow pada tanggal 18 Maret, Radek menyuarakan keprihatinan oposisinya (terhadap CPSU) dalam hal kebijakan Komintern yang secara politik melucuti Partai Komunis Cina dalam menghadapi perkembangan fakta bahwa jendral Chiang merencanakan sebuah kup kontra-revolusioner: Jendral Chiang Kai-shek menembaki buruh dan petani hampir di mana-mana dan, memang, sedang memobilisir upaya untuk menghancurkannya habis-habisan. Golongan kiri Kuomintang dan Partai Komunis harus membangkitkan keberanian dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menyingkirkan Koumintang sayap-kanan dan merebut kepemimpinan gerakan. Untuk tujuan tersebut, kaum buruh dan tani harus dipersenjatai dengan segera, detasemen buruh dan tani harus dibentuk dalam ketentaraan, isu mengenai pertanian harus diselesaikan, isu sosial harus dipecahkan dengan memenuhi tuntutan buruh dan, diatas segalanya, membangun organisasi Partai Komunis yang independen, dan bila independensi tersebut tak bisa diwujudkan, kita harus berjuang untuk meraih homogenitas yang nyata dalam gerakan nasional-revolusioner. [Dikutip dari Trotsky, Problems of the Chinese Revolution (London, 1969), hal. 307] Pada tanggal 31 Maret, saat pasukan Chiang mulai memasuki Shanghai, Serikat Buruh Bersatu mengumumkan ajakan untuk melakukan pemogokan umum, yang diikuti oleh lebih dari 800.000 buruh. Kali ini Komunis Shanghai mengkombinasikan pemogokan dengan insureksi. Pemerintahan provinsi, secara nominal bertanggungjawab kepada Kuomintang, namun sekarang berada di bawah kepemimpinan Komunis. Detasemen-detasemen buruh bersenjata muncul di jalan-jalan. Divisi pertama pasukan Nasionalis yang memasuki Shanghai, yang berada di bawah komando Hsueh Yueh, bersimpati terhadap buruh. menurut laporan Chikarov, pada Konggres ke-15 CPSU di bulan Desember, 1927: Setibanya di Shanghai, Hsueh Yueh mengunjungi kawan-kawan dan mengatakan bahwa sedang ada persiapan untuk menggulingkan kekuasaan militer… Hseuh Yeuh mengusulkan pada Komite Sentral Partai Komunis Cina untuk menyetujui pembangkangannya terhadap perintah Chiang Kai-shek (agar menarik pasukannya dari Shanghai). Dia siap tetap tinggal di Shanghai, berjuang bersama kaum buruh Shanghai, dan mempersiapkan penggulingan kekausaan militer. (Dikuti dalam Trotsky, Stalin and the ChinesevRevolution: Facts and Documents,” ibid, hal. 449-450) Namun, karena harus patuh pada perintah Moscow, yang memerintahkan agar menghindari konflik dengan Chiang, Komite Sentral Partai Komunis Cina menolak tawaran Hseuh Yeuh, dan divisinya di Shanghai digantikan oleh unit tentara kepercayaan Chiang. Kembali ke Moscow, kritik Radek terhadap kebijakan Komintern dicela oleh Bukharin dan Stalin, saat mereka menghadiri pertemuan yang diselenggarakan organisasi partai Moskow pada tanggal 4-5 April untuk memperingati “Pembebasan” Shanghai. Bukharin mengklaim bahwa di Cina “antagonisme melawan modal asing sangat kuat sehingga sebagian besar borjuis saat ini berjuang bersama massa luas.” (Dikutip dalam Carr, ibid, hal. 759) Stalin, mengemukakan pandangan yang sama, kritikannya ditujukan langsung pada Radek, mencela ramalannya tentang bencana (terhadap revolusi) sebagai “olok-olok revolusi.” Stalin mengeluarkan kritiknya terhadap Kuomintang (kanan), dengan berdalih bahwa: Revolusi Cina, berbeda dengan revolusi Russia pada tahun 1905, dalam hal bahwa di Cina target utamanya lebih pada anti-imperialistik. Kesalahan esensial kawan Radek adalah tidak cukup memahami bahwa tempo perkembangan revolusi di Cina tidak bisa secepat yang dia harapkan. Dia tidak sabar… Radek mengangkat slogan yang sangat revolusioner: Berpisahlah dengan Kuomintang Kanan, singkirkan sayap kanannya—jika saja slogan r-r-r-revolusioner semacam itu diperbanyak lagi, maka Revolusi Cina akan gagal. Terlepas dari estimasi yang salah mengenai situasi internasional, mengenai revolusi Cina dan mengenai tempo perkembangannya, maka hasil yang lain pun malahan akan menemukan kesalahan-kesalahan lain Radek. Kuomintang adalah sebuah blok, semacam parlemen revolusioner gabungan Kanan, Kiri dan Komunis. Mengapa harus melakukan kudeta? Mengapa harus menyingkirkan Kanan padahal kita memiliki suara mayoritas, dan Kanan terpaksa harus mendengarkan kita? …Jika Kanan sudah tidak ada gunanya lagi bagi kita, kita akan menyingkirkannya. Saat ini kita membutuhkan Kanan. Mereka memiliki orang-orang yang kompeten, yang masih memerintah tentara dan memimpinnya untuk melawan imperialis. Chiang Kai-shek mungkin tidak memiliki simpati pada revolusi, tetapi dia masih memimpin tentara dan, tidak bisa tidak, dia sedang memimpinnya untuk melawan imperialis. (Dikutip dalam Trotsky, Problems of The Chinese Revolution, hal. 308-309) Sehari setelah Stalin , Chiang Kai-shek mengeluarkan dekrit yang memerintahkan agar semua kelompok bersenjata berada dibawah kontrol militer, bila tidak, mereka akan diperlakukan sebagai pemberontak. Di bawah instruksi dari Moscow, Partai Komunis Cina meminta kaum buruh di Shanghai untuk mengembalikan senjatanya kepada markas besar serikat buruh. Lalu, pada jam 1 siang, tanggal 12 April, pasukan Chiang mengepung kantor Serikat Buruh Bersatu Shanghai. Ketika kaum buruh komunis menolak untuk menyerahkan senjatanya, pasukan Chiang, dengan dibantu oleh sindikat kriminal Shanghai menangkap dan mengeksekusi pimpinan organisasi buruh di seluruh kota. Sebuah dekrit resmi dikeluarkan untuk membubarkan Serikat Buruh Persatuan, dan pimpinannya, Wang Shu-hua, dieksekusi. Pejabat Partai Komunis Cina memperkirakan jumlah buruh yang terbunuh atau hilang lebih dari 5.000 orang. Pembersihan yang sama juga dilakukan oleh sayap kanan-Kuomintang di Canton: sekitar 2.100 kaum komunis ditahan dan markas serikat buruh dirampas dan diduduki oleh pasukan Nasionalis. Pada tanggal 18 April, secara terbuka Chiang memisahkan diri dari sayap kiri Kuomintang—yang, sebagai reaksi atas peristiwa kup tanggal 12 April di Shanghai, menegaskan kembali dukungannya pada aliansi dengan Moskow dan Partai Komunis Cina. Dia mengumumkan kedudukan pemerintahan Nasionalisnya sendiri di Nanking. Hari berikutnya, pemerintahan Wuhan, yang dipimpin oleh Wang Ching-wei, mengumumkan bahwa Chiang dipecat dari semua posnya dan dikeluarkan dari Kuomintang. Namun, pemerintahan Wuhan kekurangan sumberdaya militer untuk memperkuat langkah tersebut. Barulah sekarang disadari ketergantungannya pada komandan militer yang, harus seperti Chiang, juga memiliki tujuan untuk mempersatukan Cina nasional, namun jangan seperti Chiang yang, setelah April, 1927, memusuhi revolusi sosial.
|
KPRM-PRD's Note
Origin of the Economy, Politics, and Culture Crisis of Indonesia.
A. 350 years Colonialism : Inheritance colonialism in Indonesia.B. Stronghold defeat "socialism a la Indonesia" (citadel of mass mobilization-farm labor) in 1965 (which sought a way to build a democracy that Indonesia does not depend on the imperialist) to enable (i) of the New Order regime, and (ii) the capitalist economy that is not industrialized; and especially (iii) demolition achievements achievements-national democratic revolution in Indonesia during 1900-1965 at the top of the citadel of socialist defeat in 1965 (the people must learn the history of New Order). In other words, is a victory (a) the political elite to the dictatorship of democracy and mass mobilization (b) neo-colonialism.
C. Neo-liberalism: The failure of political regime and economic elites, neo-colonial country and defend the people from the globalization of neo-liberalism-which is the most malignant form of the new neo-colonialism, capitalism and the crisis of international significance increase profits from the investment-investment, so that require increased extortion.
Who fought furiously, who fought a half-hearted, and who their enemies?
Historically should note:A. Social strength (strength class), which moves from period to period. Role of youth, a young intellectual, poor traders, laborers and farmers in the resistance against colonialism until 1949; the development of the movement "socialism a la Indonesia" the period 1949-65, and in resistance to the New Order in the phase.
B. History of who organize and fight for the idea (a) the mass action and (b) socialism a la Indonesia in all this period, which should also describe the figures and ideas, idea, and also a growing political organization.
C. The situation now.
Historically must described:
A. The strength of social (class) which is capable of and concerned with (proletarian and students, with the special position of the mass majority, that is, mass semi-proletarian and bourgeois small-impoverished and oppressed the poor, the city / town and village Marhaen)
B. Who is the enemy of the people in the country and why: the remnants of New Order, the military, reformis fake, fake nationalist, all of which stand at the top of the class interests of capitalists in the country with all the conflict-conflict. Who musah abroad: imperialistic, imperialist pemrintah-government, international financial institutions, MNC companies and international banks
C. Who strategic partners in and outside the country, both in class and organization. In explaining aspects of the organization in the country must be accompanied with a thorough explanation, sensitive, humble, but to the scientific situation fragementasi pioneering. Strategic partners prospective partners is unity.
D. Who tactical ally: this changed from time to time, can force the social (class or a part of a class), can be individuals or organizations.


