|
There are no translations available.
‘Tesis April’ Stalin Pada tanggal 21 April, 1927, Pravda mempublikasikan satu set “tesis untuk propagandis” yang, dengan cepat, dirancang Stalin, dengan pengakuan bahwa tesis tersebut telah disyahkan oleh Komite Sentral CPSU, meskipun sebenarnya tak pernah dipresentasikan pada rapat Komite Sentral yang diselenggarkan seminggu sebelumnya. Dalam tesisnya, Stalin mengakui, untuk pertamakalinya, bahwa kudeta Chiang pada bulan Maret, 1926, “merupakan usaha serius pertama kalinya yang dilakukan oleh borjuis nasional untuk mengkerangkeng revolusi.” Dalam merespon hal tersebut, Stalin berpendapat bahwa garis Komintern:
…yang diarahkan langsung untuk mendorong perkembangan revolusi lebih maju lagi, melalui kerjasama yang erat antara golongna Kiri dengan Komunis di dalam Kuomintang dan dalam pemerintah nasional, telah memperkuat persatuan di dalam Kuomintang dan, pada saat yang sama, membongkar dan mengisolasi golongan Kanan, memaksa mereka mematuhi disiplin Kuomintang, memanfaatkan golongan Kanan—yakni koneksi dan pengalaman mereka—jika mereka tunduk pada disiplin Kuomintang, atau memecat mereka dari Kuomintang jika mereka melanggar disiplin dan mengkhianati revolusi. [Stalin, Questions of the Chinese Revolution, ibid, p. 660] “Preristiwa-peristiwa selanjutnya”, menurut Stalin, telah “sepenuhnya membuktikan kebenaran garis tersebut.” Kudeta April yang dilakukan oleh Chiang, menurut Stalin, merupakan “tanda-tanda pengkhianatan kaum borjuis nasional terhadap revolusi” dan bahwa: ...Perkembangan revolusi telah memasuki tahap kedua, yakni telah bergerak dari suatu revolusi front persatuan seluruh-nasional—yang sedang melaju suatu revolusi yang melibatkan massa yang besar buruh dan petani—menuju seuatu revolusi agraria, yang akan memperkuat dan memperluas perjuangan melawan imperialisme, tuan tanah, bangsawan, militer, dan kelompok kontra-revolusi Chiang Kai-shek... Dengan demikian, sesuai dengan janji utama kemenangan revolusi, yakni pertumbuhan aktivitas revolusioner massa kelas pekerja, dan mendapatkan obat-penangkal utama terhadap kontra-revolusi—yakni mempersenjatai buruh dan petani. (Stalin, ibid, hal. 662-664) Apakah itu artinya bahwa kaum Komunis Cina harus menyerukan dibentuknya badan perwakilan soviet buruh, petani dan serdadu atau, dengan kata lain, mendirikan organ kediktatoran revolusi-demokratik kaum proletar dan petani, sebagaimana yang dianjurkan Lenin pada tahun 1905, dan juga oleh oposisi CPSU? Tidak, jawab Stalin, “karena hal itu berarti kita harus mengeluarkan slogan untuk membentuk organ kekuasaan baru,” sehingga “akan membingungkan tugas untuk mendirikan dan memperkuat organisasi massa buruh dan petani… padahal Kuomintang revolusioner telah lebih dulu menyadari tugas mendirikan sistem Sovyet sebagai sebuah tipe baru kekuasaan Negara untuk menggantikan kekuasaan Kuomintang revolusioner.” Kaum Komunis Cina harus melanjutkan “kebijakan untuk mengkonsentrasikan seluruh kekuasaan negeri ke tangan Kuomintang revolusioner, Kuomintang tanpa elemen Kanan, Kuomintang yang merupakan blok elemen Kiri Kuomintang dengan kaum Komunis.” Dalam pandangan Stalin, “Kuomintang yang revolusioner di Wuhan dalam kenyataannya akan menjadi organ kediktatoran demokrasi-revolusioner proletar dan petani (Stalin, ibid, hal. 665) Tujuh bulan kemudian, pada konggres CPSU yang ke-15, fungsionaris Stalinis, yakni Chitarov, yang baru saja kembali dari Cina melaporkan bahwa: Setelah kudeta Shanghai, semakin jelas bagi semua orang bahwa sebuah babak baru telah dimulai dalam revolusi Cina; bahwa kaum borjuis telah menarik mundur revolusi. Hal tersebut, sebenarnya, sudah bisa diketahui dan, dengan segera, disimpulkan. Tetapi, ada satu hal yang terlepas dari pengamatan, yakni dalam hubungannya dengan hal ini—bahwa walaupun kaum borjuis telah menarik mundur revolusi, namun pemerintahan Wuhan bahkan tak memikirkan untuk menolak kepentingan kaum borjuis. Sangat disayangkan, di kalangan kawan-kawan (Bangsa Cina) kita, hal tersebut tidak dipahami; mereka memiliki ilusi (menaruh harapan) pada pemerintahan Wuhan. Menurut pertimbangan mereka, pemerintahan Wuhan merupakan gambaran, sebuah bentuk nyata, dari kediktatoran demokratik kaum proletar dan petani. (Dikutip dalam Trotsky, Stalin and the Chinese Revolution: Facts and Documents, ibid, hal. 452) Chitarov dengan hati-hati menghindar memberi penjelasan atas pertanyaan tentang bagaimana kaum Komunis Cina bisa mendapatkan ilusi semcam itu. Investigasi terhadap hal tersebut mungkin akan mempertaruhkan dirinya; ia sama sekali tak punya ilusi untuk kehilangan jabatannya! Mengomentari “Tesis April” Stalin, dalam artikelnya pada tanggal 7 Mei, Trotsky menulis: Ekspedisi Utara hanya membuat borjuis kuat, dan melemahkan kaum buruh. Sebuah taktik (yang direncanakan) namun memberikan hasil semacam itu tentu saja merupakan taktik yang salah. “Dalam prakteknya kita mengorbankan kepentingan kaum buruh dan petani,” ujar Tan Ping-Shan. Untuk apa taktik semacam itu? Untuk mendukung blok empat kelas. Dan hasilnya? Sebuah sukses besar bagi borjuis kontra-revolusi, mengkonsolidasikan imperialisme yang sebelumnya terpecah-pecah, dan melemahkan USSR. Kebijakan kriminal. Jika tidak dihancurkan tanpa ampun, kita tidak bisa mengambil langkah maju... Tesis tersebut, bahkan hingga sekarang, berusaha keras untuk membenarkan kebijakan yang mempersatukan kaum proletar dengan borjuis besar dalam kerangka satu organisasi, Kuomintang, yang seluruh pimpinannya berada dalam genggaman kaum borjuis. Tesis tersebut mengatakan: “Inilah cara… untuk memanfaatkan kaum Kanan—terutama koneksi dan pengalaman mereka—sejauh mereka tunduk [!] pada disiplin Kuomintang.“ Sekarang kita tahu dengan jelas bagaimana kaum borjuis tunduk pada “disiplin” dan bagaimana kaum proletar dapat memanfaatkan golongan Kanan, yakni borjuis menengah dan besar: “koneksi” mereka—adalah dengan imperialis; dan “pengalaman mereka”—dalam mengekang dan menembaki kaum buruh. Cerita tentang “memanfaatkan” tersebut ditulis dalam buku revolusi Cina dengan huruf berdarah… Kaum buruh bukan hancur saja sekadar hancur. Tapi mereka dihancurkan oelh pimpinan mereka sendiri. Sekarang, adakah orang yang percaya bahwa massa akan mau dipimpin oleh golongan Kiri-Kuomintang dengan semangat yang sama—saat mereka sepakat sepenuhnya terhadap Kuomintang? Dalam revolusi dengan tahap perjuangan yang baru dan lebih tinggi, massa yang merasa tertipu harus terlebih dahulu diberi inspirasi agar memiliki kepercayaan terhadap diri mereka sendiri… massa membutuhkan sebuah program yang revolusioner dan organisasi perjuangan yang tumbuh dengan usaha sendiri, serta organisasi yang, dalam berhubungan dengan massa, dapat memberikan jaminan memiliki loyalitas terhadap massa. Kekuasaa Wuhan tidak dapat memenuhinya; padahal soviet kaum buruh, petani dan serdadu membutuhkannya… Tesis Stalin menolak slogan Sovyet dengan argumen bahwa hal tersebut akan menjadi sebuah “Slogan perjuangan melawan pemerintahan revolusioner Kuomintang”. Tetapi, dalam kasus tersebut, apakah arti dari kata-kata ini: “Prinsip penangkal-utama kontra-revolusi, yakni dengan mempersenjatai buruh dan petani?” Untuk melawan siapakah kaum buruh dan tani yang mempersenjatai diri tersebut? Bukankah untuk melawan otoritas pemerintahan revolusioner Kuomintang? Slogan tentang mempersenjatai kaum buruh dan petani, jika hal tersebut bukan sekadar ungkapan, dalih, atau samaran, tetapi merupakan seruan untuk mempersenjatai diri, maka hal tersebut tidak kurang tajamnya karakternya dibandingkan dengan slogan Sovyet buruh dan petani... Menyatakan pembentukan Sovyet belumlah tepat saatnya namun, di lain pihak, mengeluarkan slogan untuk mempersenjatai buruh dan tani, hanya akan menyebabkan kebingungan. Hanya Sovyet yang, pada perkembangannya yang lebih jauh (dalam revolusi), dapat menjadi organisasi yang mampu secara sungguh-sungguh memimpin kaum buruh bersenjata dan mengarahkan massa bersenjata tersebut. …hanya karena karena sekarang terdapat sejumlah organisasi kiri-Kuomintang di Wuhan… maka tesis tersebut memberikan kesimpulan: pembentukan Sovyet berarti tindakan untuk melancarkan insureksi melawan golongan kiri-Kuomintang, “karena, seakrang ini, tidak ada otoritas pemerintahan di wilayah ini selain Kuomintang revolusioner.” Kata-kata tersebut akan membusuk bersamaan dengan watak aparatus birokrasi otoritas revolusioner. Pemerintahan tidak dipandang sebagai cerminan dan konsolidasi perkembangan perjuangan kelas, tetapi sekadar ekspresi pemenuhan-diri dan kehendak Kuomintang. Kelas-kelas datang dan pergi tapi kontinuitas Kuomintang tetap untuk selamanya. Tetapi belumlah memenuhi syarat sepenuhnya untuk menyebut Wuhan sebagai pusat revolusi atau untuk sungguh-sungguh seperti itu... Sebuah Kuomintang yang revolusioner belumlah terbentuk. Kita sedang membantu kaum Komunis yang bekerja di dalam Kuomintang dan, dengan sabar, menarik kaum buruh dan petani agar berada di sisinya. Partai komunis bisa menarik kaum peti-borjuis menjadi sekutunya, bukan dengan melemahkan diri seperti saat bersama Kuomintang, atau dengan menggambarkan kebimbangan di hadapan semua orang, tetapi jika partai menampilkan diri di hadapan kaum buruh secara terbuka dan langsung, dengan menggunakan nama sendiri, di bawah bendera sendiri, mengorganisir mereka agar mengikutinya, menunjukkan pada Kuomintang contoh serta bukti seperti apakah partai yang mengabdi pada massa itu, mendukung setiap langkah maju Kuomintang, tanpa belas kasihan membongkar setiap kebimbangan dan setiap langkah mundur, serta menciptakan landasan revolusioner yang sejati saat membentuk blok bersama Kuomintang dalam bentuk sovyet buruh, petani dan serdadu. (Trotsky, The Chinese Revolution and the Theses of Comrade Stalin, ibid, hal. 167-183) Dua hari sesudah Trotsky menulis artikel tersebut, Koran Menshevik di Paris Sotsialistichesky Vestnik mengekspresikan rasa solidaritasnya pada posisi Stalin, dengan pernyataan: Jika kita harus menggarisibawahi segepok kata-kata yang wajib ditelaah dalam tesis dari seorang pemimpin komunis ini, maka hanya sedikit sekali esensi “garis” kebijakan yang dapat ditentang. Perbanyaklah kemungkinan untuk tetap bertahan dalam Kuomintang, dan upayakan agar dapat tetap melekat pada sayap Kiri pemerintahan Wuhan, hingga ke momen akhir yang paling memungkinkan… apa yang sesungguhnya lebih bijaksana bagi Bolshevik sekarang ini, setelah “front persatuan” secara nyata telah dirusak tanpa dapat diperbaiki lagi. Namun, bertentangan dengan dukungan mereka terhadap kebijakan Stalin, Menshevik menyatakan bahwa “garis dari Radek, yang diselebungi oleh slogan ekstrim “kiri”—menarik diri dari Kuomintang, ‘propaganda system sovyet’, dan lain ebagainya—cukup menggiurkan ketimbang realitas menyerah ke dalam permainan tersebut (tetap berada dalam Komintang) dan melangkah mundur…. (Dikutip dalam Trotsky, ibid, hal. 196-197) |