Home Direction STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (IX)
Bookmark and Share
Direction
STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (IX) PDF
Written by Doug Lorimer   
There are no translations available.

Mao

Partai Komunis Cina dan Pemerintahan Wuhan

Konggres ke-5 Partai Komunis Cina dibuka di Wuhan pada tanggal 27 April dan berlanjut hingga 9 Mei, 1927. Chen Duxui melaporkan bahwa kini partai memiliki anggota sebanyak 57.987 anggota, yang terdiri dari 53,7% kaum buruh, sebanyak 18,7 % kaum petani, dan sebanyak 19.1% kaum terpelajar. Keanggotaan Liga Pemuda Komunis tercatat sekitar 35.000 anggota. Sebagai tambahan, Kaum komunis memimpin sebuah serikat buruh yang beranggotakan sekitar 2.8 juta orang dan serikat petani dengan anggota sebanyak 9.27 juta anggota. Jumlah yang optimis ini, bagaimanapun juga, memiliki cacat dengan adanya fakta bahwa—seperti yang diungkapkan oleh Zinoviev dalam tesisnya yang dipresentasikan pada rapat Komite Sentral CPSU di bulan April:

Dalam agitasi mereka di kalangan massa yang terbuka, kaum komunis tidak pernah atau hampir tidak pernah, muncul dengan nama partai mereka sendiri tetapi di bawah nama Kuomintang. Dengan sikap tersebut, partai kaum Komunis seringkali mulai kehilangan kontak dengan massa. Walaupun cakupan wilayah (perisitwa-peristiwa) nya sangat luas sekali, Partai Komunis tak menerbitkan Koran harian hingga saat ini atau, secara umum, setidaknya terbitan Bolshevik yang sirkulasinya luas, padahal mereka memiliki seseorang mentri dalam pemerintahan Nasionalis. (Lampiran pada Trotsky, Problems of the Chinese Revolution, hal. 283)

Nyatanya, sirkulasi jurnal mingguan Partai Komunis Cina hanya sekitar 50.000 ekslemplar.
Penambahan keanggotaan partai yang spektakuler—meningkat dari hanya sekitar 980 anggota, pada konggres partai yang ke-4 (dalam bulan Januari, 1925)—sebenarnya bisa saja tidak terpengaruh oleh peristiwa pembantaian organisasi Shanghai. Dan takdir yang sama bisa terjadi kembali di kota besar lainnya yang berada di bawah kontrol Chiang Kai-shek.

Dalam laporannya pada konggres Partai Komunis Cina, Chen mengulas kembali sejarah partai, mengekspresikan keraguannya pada garis yang diputuskan sejak kudeta Chiang pada tanggal 20 Maret, 1926. Dia mengakui bahwa pemerintahan Wuhan, yang 2 orang menterinya merupakan anggota komunis namun “masih belum menjadi pemerintahan massa buruh-tani melainkan hanya sebuah blok para pimpinan”, karena itu tugas selanjutnya yang dihadapi Partai Komunis Cina adalah “membangun sebuah pemerintahan demokratik dan revolusioner yang sejati.” Namun demikian, dalam rangka mempertahankan kebijakan Komintern—yang menuntut konsentrasi “Seluruh kekuatan yang ada di negri ini berada di tangan Kuomintang yang revolusioner, Kuomintang tanpa elemen Kanan, Kuomintang yang merupakan blok elemen Kiri Kuomintang dengan Komunis”, agar dapat mengalahkan tuan tanah dan imperialisme—maka Chen dipaksa untuk menangguhkan tugas tersebut hingga “situasi di lingkungan pemerintahan nasional berubah, dan ancaman campurtangan asing serta serangan militer menghilang.” (Dikutip dalam Trotsky, 17 Mei, catatan untuk The Chinese Revolution and the Theses of Comrade Stalin, Leon Trotsky on China, hal. 192-193)

Posisi kontradiktif yang sama juga diputuskan oleh konggres Partai Komunis Cina terhadap reformasi agrarian. Gerakan petani, demikian laporan Chen, “telah ditransformasikan menjadi perjuangan untuk mendapatkan tanah. Kaum petani bangkit secara spontan dan ingin melakukan gugatan atas tanah dengan menggunakan kekuatan sendiri.” Walaupun Chen mengakui bahwa Partai Komunis Cina terlalu mengambil “kebijakan yang terlalu cinta damai, anti-konflik” dalam memandang perjuangan kelas di pedesaan—padahal “sekarang ini sangat penting untuk menyita perkebunan yang lebih besar,”—namun Chen kembali patuh pada kebijakan Komintern yang mensubordinasikan segalanya demi penyatuan Cina di bawah sebuah pemerintahan Kuomintang yang “revolusioner”:

Meskipun demikian, sangatlah dibutuhkan kesabaran menunggu perkembangan lebih jauh operasi militer yang akan menyita perkebunan yang lebih besar. Satu-satunya keputusan yang benar pada saat ini adalah prinsip memperdalam revolusi sesudah memperluasnya (Dikutip dalam Carr, ibid, hal. 792)

Selama mendiskusikan laporan Chen, perwakilan Komintern, M. N. Roy—yang telah bekerjasama dengan Lenin dalam mempersiapkan kebijakan gerakan revolusi-nasional untuk konggres Komintern ke-2—berpendapat bahwa kesalahan Partai Komunis Cina di masa lalu “dikarenakan terlalu memandang besar borjuis” dan gagal mengembangkan “energi kelas pekerja sebagai kekuatan yang independen.” Dalam pidatonya, ia mengemukakan lima poin yang bisa merubah secara revolusioner kebijakan Partai Komunis Cina, yakni: revolusi agraria, mempersenjatai kaum tani, pemerintah otonom di desa, Negara denganlandasan kediktatoran revolusioner buruh-tani, dan “membentuk tentara revolusi, bukan dengan cara merubah tentara reguler menjadi revolusioner, melainkan dengan mengorganisir tentara revolusioner pada sebuah basis sosial.” Hari berikutnya dia ditegur oleh menteri pertanian pemerintahan Wuhan yang berasal dari Partai Komunis Cina, dengan alasan bahwa kebijakan agrarian dapat diserahkan pada Kuomintang.

Walaupun Roy memberikan jaminan pada Wang Ching-wei dan pimpinan Kuomintang lainnya yang menghadiri konggres Partai Komunis Cina bahwa Komintern akan “Berkolaborasi dengan Kuomintang sampai kemenangan terakhir,” namun pidatonya benar-benar kan membangkitkan kecurigaan atas maksud kaum komunis.

Konggres diakhiri dengan mengangkat kembali Chen sebagai sekretaris jendral dan anggota politbiro ,yang beranggotakan Chen, Chu Chiu-pai, Li Lisan dan Chou En-lai. Kolaborasi antara elemen Kiri Kuomintang dengan Partai Komunis Cina segera mendapat ujian yang keras. Pada tanggal 19 Mei, Komite Sentral Kuomintang mengeluarkan suatu peringatan kepada organisasi buruh dan tani untuk menghindari “perilaku yang tidak disiplin” dan “tuntutan yang berlebihan.” Dua hari kemudian, terjadi pertempuran di Changsa, ibukota dari provinsi Hunan, antara organisasi petani militan dengan pasukan militer lokal. Komandan tentara lokal Kuomintang, meniru taktik Chiang Kai-shek di Shanghai, meminta agar pasukannya melakukan penyembelihan secara sistematis atas kaum komunis, orang yang diduga komunis dan pimpinan petani. Pemerintahan Wuhan, meskipun diminta oleh Partai Komunis Cina untuk ikut campur, tidak melakukan apapun untuk memeriksa beberapa banyak penindasan yang dilakukan oleh komandan lokalnya, baik yang di Hunan maupun di Hupei, yang telah mengakui bahwa mereka telah membunuh sekitar 20.000 petani.

Pada satu pertemuan politbiro Partai Komunis Cina, Chen memperingatkan: “Kuomintang Wuhan telah mengikuti jejak Chiang Kai-shek! Jika kita tidak merubah kebijakan kita, kita juga akan berakhir dengan nasib yang sama… Hanya ada dua jalan yang ada di depan kita: menyerahkan pimpinan kekuasaan atau memutuskan hubungan dengan mereka.” Sekali lagi Chen mengusulkan agar Partai Komunis Cina mengundurkan diri dari Kuomintang. Usulannya didukung oleh Roy, yang menyimpulkan bahwa Komite Sentral Kuomintang telah berubah “menjadi kontra revolusi.” Li Lisan memprotes hal tersebut dengan mengatakan bahwa ucapan tersebut adalah sama seperti “mengirimkan sebuah peti jenasah kepada Partai Komunis Cina!” Chu Chiu-pai membantah dengan mengatakan bahwa: “Kita harus membiarkan Kuomintang mengusir kita; kita tidak boleh mengusir diri kita sendiri.” Chou Enlai yang, seperti kebiasaannya, menghindar berada pada sisi yang berseberangan, menyatakan: “Bila kita mengundurkan diri dari Kuomintang, gerakan buruh dan petani akan terbebaskan, namun gerakan militer akan banyak menderita kerugian.” Karena tak mampu memecahkan persoalan tersebut, Chen melakukan konsultasi dengan kepala perwakilan Komintern, Mikhail Borodin, yang mengatakan: “Saya setuju dengan ide-mu, tetapi saya tahu bahwa Moskow tidak akan pernah mengijinkan hal tersebut.” (Dikutip dalam Chen Tu-Hsiu, Appeal to all Comrades of the Chinese Communist Party, catatan untuk Leon Trotsky on China, hal. 604)

 

KPRM-PRD's Note

Origin of the Economy, Politics, and Culture Crisis of Indonesia.

A. 350 years Colonialism : Inheritance colonialism in Indonesia.
B. Stronghold defeat "socialism a la Indonesia" (citadel of mass mobilization-farm labor) in 1965 (which sought a way to build a democracy that Indonesia does not depend on the imperialist) to enable (i) of the New Order regime, and (ii) the capitalist economy that is not industrialized; and especially (iii) demolition achievements achievements-national democratic revolution in Indonesia during 1900-1965 at the top of the citadel of socialist defeat in 1965 (the people must learn the history of New Order). In other words, is a victory (a) the political elite to the dictatorship of democracy and mass mobilization (b) neo-colonialism.
C. Neo-liberalism: The failure of political regime and economic elites, neo-colonial country and defend the people from the globalization of neo-liberalism-which is the most malignant form of the new neo-colonialism, capitalism and the crisis of international significance increase profits from the investment-investment, so that require increased extortion.

Who fought furiously, who fought a half-hearted, and who their enemies?

Historically should note:
A. Social strength (strength class), which moves from period to period. Role of youth, a young intellectual, poor traders, laborers and farmers in the resistance against colonialism until 1949; the development of the movement "socialism a la Indonesia" the period 1949-65, and in resistance to the New Order in the phase.
B. History of who organize and fight for the idea (a) the mass action and (b) socialism a la Indonesia in all this period, which should also describe the figures and ideas, idea, and also a growing political organization.
C. The situation now.
Historically must described:
A. The strength of social (class) which is capable of and concerned with (proletarian and students, with the special position of the mass majority, that is, mass semi-proletarian and bourgeois small-impoverished and oppressed the poor, the city / town and village Marhaen)
B. Who is the enemy of the people in the country and why: the remnants of New Order, the military, reformis fake, fake nationalist, all of which stand at the top of the class interests of capitalists in the country with all the conflict-conflict. Who musah abroad: imperialistic, imperialist pemrintah-government, international financial institutions, MNC companies and international banks
C. Who strategic partners in and outside the country, both in class and organization. In explaining aspects of the organization in the country must be accompanied with a thorough explanation, sensitive, humble, but to the scientific situation fragementasi pioneering. Strategic partners prospective partners is unity.
D. Who tactical ally: this changed from time to time, can force the social (class or a part of a class), can be individuals or organizations.