Home Direction Bebunyian Kesakitan rakyat (Manusia); Bebunyian Demi Pembebasan Rakyat (Manusia)
Bookmark and Share
Direction
Bebunyian Kesakitan rakyat (Manusia); Bebunyian Demi Pembebasan Rakyat (Manusia) PDF
Written by Danial Indrakusuma   
There are no translations available.

Danial

(Isi dan Ajang) *

Danial Indrakusuma

Segera tentukan: bebunyian syair, prosa, musik, tinta, cat, tarian, dan teatermu ini adalah bunyi KESAKITAN RAKYAT atau PERLAWANAN RAKYAT, atau SEKADAR EKSPRESI demoralisasi, sentimentil, involusi, dekadensi, cengeng, ketakutan, penyerahan, kegenitan, dst-dst. TIDAK! BUNYI KAMI ADALAH BUNYI JALAN KELUAR: PEMBEBASAN DIRI-MANUSIA bersama PERLAWANAN RAKYAT. (Zely Ariane)

Kesakitan rakyat dan perlawanan rakyat sebagai alasnya

1. Bila budaya berkehendak membebaskan rakyat (manusia), maka merenunglah dengan welas asih di sisi kesakitan rakyat (manusia)—bahkan sebagai imbalannya, kesakitan rakyat akan menghaturkan kehalusan budi bagi yang merasakannya dengan tulus—agar kita tahu secara benar dan kongkrit garda-garda keji yang menghalanginya menjadi manusia, manusia yang dicintai manusia (dan bumi). (Memang, tugas manusia adalah menjadi manusia, manusia yang berguna bagi manusia lainnya (dan bumi) dan bagi dirinya, memanusiakan manusia sebagaimana keharusan yang diketemukan dalam tahap sejarahnya, membudayakan manusia dalam tahap sejarahnya.) Dalam renungan Marxisme, sejarah memberikan suguhan cerita tentang bagaimana suatu sistim, hukum, tata-tata cara satu masyarakat mengatur—walau sering bukan masyarakat, tapi sekelompok manusia keji atau berbudi—bagaimana menjerumuskan rakyat (manusia) ke kegelapan kejahatan terhadap manusia lainnya (tiada tara brutalitasnya, bagai hewan yang pandai) namun, selain itu, renungan Marxisme juga bisa memahami bahwa bukan saja warisan buruk yang diwariskan sejarah, tapi juga warisan bahan-bahan (termasuk bahan-bahan budaya) yang memberikan harapan bagi pembebasannya, yang dapat dijadikan senjata (yang disempurnakan) untuk membebaskan. Negatif dan positif, kegelapan kejahatan dan pembebasannya—saat didialektikan, dikontradiksikan (secara politik), siapa yang menang. Itulah juga tugas budaya: membudayakan politik dan mempolitikan budaya, bertarung (membebaskan) dengan indah.

2. Warisan sejarah negatif dan positif. Despotisme (kebejatan) feodalisme, yang menyengsarakan rakyat (manusia) baik secara ekonomi, budaya dan politik, tak sanggup digulingkan, diselesaikan oleh unsur-unsur pembebasan yang dihasilkan oleh masyarakat feodal itu sendiri—walau ia juga meninggalkan harapan perlawanan dari bawah (Suropati dan Arok, misalnya). Cikal-bakal masyarakat pedagang dan industri—yang memiliki bibit bertentangan dengan feodalisme—pantai utara Jawa, mati kutu, tanpa daya, peralaya, di hadapan kekejian feudal. Feodal tetap digjaya, dengan segala keserakahan menumpuk tenaga produktif dan mercu suarnya, namun ia juga ditelikung oleh perlawanan-perlawanan (pemisahan diri)—yang mengurangi penumpukan tenaga produktifnya—dari bangsawan-bangsawan kecil. Tapi itu bukan perlawanan bagi kepentingan pembebasan rakyat (manusia) pada masanya. Feodal yang makin mendekati lumpuh, yang telah dipukul balik, diselesaikan, dituntaskan oleh merkantilisme dan (kemudian) kapitalisme-kolonial, hingga menjadi arus balik feudal. Tak ada kepentingan rakyat (manusia) berbudaya pada masanya untuk membantu (secara sukarela) melawan merkantilisme dan (kemudian) kapitalisme-kolonial. Pada batas kehancurannya, feudal mewariskan budaya: kepatuhan (dipaksa), menjilat ke atas menginjak ke bawah, takhyul, patriarki, persembahan, a-sosial hingga tak mampu berorganisasi, mudahnya mengkhianati kawan, dan lain-lain, bahkan bebunyian seni pun dihaturkan sebagai persembahan bagi bangsawan; namun, rakyat (manusia) juga belajar dari Suropati dan Arok: bahwa rakyat bisa melawan, punya kapasitas memberontak—bahkan Arok berhasil sampai ke tahap penggulingan kekuasaan. (Kemudian, itulah mengapa LEKRA mencoba menyebarluaskan warisan positif tersebut, warisan budaya pemberontakan yang dikemas seni, indah.)

Selanjutnya, merkantilisme (kemudian kapitalisme-kolonial)—seri

 

ng dengan memanipulasi warisan negatif feodal—di ujung masanya, bahkan memberikan hak pada pribadi pedagang/pengebun/pabrikan/calo, dalam memusatkan tenaga produktif tanah dan manusia guna penumpukan kesejahteraan pribadi dan negeri kolonial. Kelaparan, buruh perepuan tanam paksa melahirkan di jalan, menjilat mandor mengkhianati kawan, takut, melacur, pelacuran, nyai, mabok, maling, rampok, geng bandit, pemerkosaan, pembunuhan, penyiksaan dan penghinaan pada perempuan, takhyul, dan sebaginya, bahkan bebunyian pun hanya demi kesenangan dekaden (walau isian persembahan pada feodal semakin berkurang. Bebunyian feodal dipakai rakyat untuk dekadensi kesenangan); namun, di ujung abad-20, ada harapan berkilau: modernisasi—padahal modernisasi sebenarnya diberikan oleh kapitalisme-kolonial agar bisa lebih besar menumpuk lebih banyak lagi kekayaan—dalam makna baca-tulis, organisasi, percetakan, gagasan sosial-demokrat, sosialisme, komunisme, PanIslamisme, Islam sosilisme/komunisme, debat, persatuan, rapat akbar (vergardering), partai, serikat, perjuangan bersenjata, dan lain sebagainya, bahkan bebunyian dihaturkan pada rakyat di lapangan terbuka, dalam rapat akbar. Tumpas (sesaat) dalam bui, buang, dan bunuh. Tak berapa lama, perlawanan bangkit hingga mencapai tahap budaya perlawanan dalam bentuk partai, bangsa Indonesia, sosialisme, komunisme, sosial-demokrat, Islam, kombinasi perjuangan diplomasi dan bersenjata (gerilya, bahkan perempuan terlibat), persatuan, dan lain-lain melanjutkan tradisi budaya posistif sebelumnya, bahkan saat itu bebunyian seni-perjuangan lebih berwarna-warni, beragam, beraneka membantu meningkatkan semangat perjuangan—dan, terlebih-lebih:

Ketika sastra mulai akan di-INDAH-kan oleh strategi-taktik revolusi;
Saat strategi-taktik revolusi mulai akan di-INDAH-kan oleh sastra;
terjadilah pembantaian '65.
kapan dilanjutkan?

Namun, revolusi nasional juga memproduksi budaya buruk, pembunuhan semena-mena (tanpa proses hukum), pemerkosaan, bandit, garong, jago, merasa punya senjata, penculikan, penyiksaan, pembantaian, tak toleran terhadap ideologi kelompok lain, dan sebaginya.

1965. Sekarang ini, hatiku sedang tak sanggup menceritakan kebrutalannya. Yang jelas: semua warisan budaya positif masa lalu dihancurkan raga dan jiwa—sampai mati potensi sebagi manusia; sampai-sampai manusia dihilangkan dimensi, ingatan, sejarahnya, layaknya binatang; penculikan, pembunuhan, pembantaian (hampir 3 juta manusia), kebohongan, pemalsuan sejarah, kemunafikan, (menghidupkan kembali budaya) feodalisme, konsumerisme, extravaganza, pelacuran intelektual, korupsi, penghinaan pada kaum perempuan, pemenjaraan, pembuangan, penyiksaan, perkosaan, kediktatoran, integralistik dan penyeragaman kehidupan bernegara, kepatuhan, imperialisme, kemunafikan dan sebagainya dan sebagainya, bahkan bebunyian hampir seluruhnya profan, dekaden, cengeng, munafik. Namun, di masa inilah gagasan sosialisme dapat dihidupkan lagi, dengan aksi massa, dengan menghancurkan budaya diam dan patuh serta feodalis, kelompok belajar, organisasi dan partai alternatif, reformisme yang seiiring sayup-sayup suara revolusi, keterlibatan perempuan dalam perjuangan, bakan bebunyian seni-perjuangan hidup kembali walau penuh resiko pemenjaraan dan pembunuhan. BRAVO!

Jiwa (semangat) budaya bebunyian seni

1. Landasan sejarah tersebut di atas ah yang harus mengalasi, mengisi jiwa (semangat) budaya bebunyian seni kita, budaya seni yang mau merenung, tergores, dan tergetar oleh kesakitan rakyat (manusia) yang, seharusnya, membuat kita takzim berpikir dan membakar semangat pembebasannya—sekali lagi, pembebasan rakyat (manusia).

2. Bebunyian itu—syair, prosa, musik, tinta, cat, tarian, teater, cerita, roman, novel, seni lokal, seni dunia, dan lain sebagainya—akan begitu indah bermartabatnya bila berada dalam jalur kesatuan manusia-manusia yang berjuang untuk pembebasan rakyat (Manusia) dan pembebasan seni itu sendiri [agar bisa mencapai kemajuan teknis estetika tanpa batas, karena pembebasan rakyat (manusia) itu sendiri akan mengembalikan syarat-syarat material dan spiritual bagi pengembangan potensi kapasitas masyarakat/individu untuk berseni, disebabkan kepemilikan pribadi atas syarat-syarat tersebut telah dihapuskan, dihancurkan, diberangus oleh pembebasan (baca: revolusi).

3. Bebunyian yang prihatin terhadap kesakitan rakyat dan berpikir, berpolitik militan, untuk pembebasan rakyat (manusia) memiliki tugas kemanusiaan menghancurkan budaya-budaya buruk warisan sejarah (agar jangan menjadi tradisi buruk) dan mengembangkan budaya-budaya benar dan indah warisan lama (agar menjadi tradisi manusia seharusnya).

4. Tentu saja, perjuangan tersebut penuh resiko—yang akan menumpaskan raga dan melelahkan jiwa kita—karena itu, tak ada kata-kata lain untuk mengatasinya: belajar Marxisme dan militan (tanpa pamrih dan tanpa batas).

Strategi dan taktik bebunyian pembebasan

1. Bebunyian pembebasan harus ada di jalur-jalur agitasi-propaganda yang sudah ada; bahkan dan, karena ia bebunyian, maka ia berpotensi untuk menciptakan sendiri jalur agitasi-propaganda.

2. Jalur bebunyian itu sendiri adalah rangka jalur manusia-pejuang untuk berbicara lebih pandai, lebih luas, kepada rakyat (manusia) di pabrik, di kampung, di desa, di kampus, di tempat-tempat kerja, di jalanan, di radio, di televise, di udara (spanduk udara), di panggung, di lapangan rapat akbar, di tembok-tembok (mural), di kaos, di perayaan-perayaan (bahkan perayaan sunatan dan perkawinan), di koran, di selebaran dan sebagainya dan sebagainya.

3. Penindasan meraksuk ke masyarakat sampai-sampai membuat manusia berbeda kapasitas berbunyi-bunyian, tak adil—ada yang pandai berbunyian, ada yang tidak; ada yang sanggup mengumpulkan berbagai bebunyian dalam satu kelompok, ada yang tidak. Karena itu, berangkat dari yang nyata, yang kita punya, maka kita harus menentukan bebunyian apa saja yang diunggulkan (diprioritaskan) untuk masuk ke jalur-jalur agitasi-propaganda—sastra kah, musik kah, lukis kah, silakan.

Organisasi

1. Organisasinya harus mencakup bidang-bidang bebunyian (termasuk bidang pengamen jalanan) yang sanggup, nyata, ada sekarang, jangan mengada-ada dahulu—karena perkembangan bidang-bidang bebunyian tegantung dari panen (nyata) perjuangan perluasan bebunyian tersebut.

2. Selain itu, harus ada bidang pengkajian budaya, sebagai sumber mata air yang jernih untuk mengisi pemahaman yang lebih maju atas ideologi, politik (baca strategi dan taktik), dan organisasi (baca: jalur agitasi-propaganda berbicara pada rakyat secara luas) bebunyian tersebut.

Slogan, semboyan

1. Bebunyian kesakitan Rakyat (manusia); Bebunyian Demi Pembebasan Rakyat (Manusia)!

Demikian lah, semoga bermanfaat untuk menyayangi rakyat (manusia).


* Sumbangan untuk Kongres Serikat Pengamen Indonesia.
 

KPRM-PRD's Note

Origin of the Economy, Politics, and Culture Crisis of Indonesia.

A. 350 years Colonialism : Inheritance colonialism in Indonesia.
B. Stronghold defeat "socialism a la Indonesia" (citadel of mass mobilization-farm labor) in 1965 (which sought a way to build a democracy that Indonesia does not depend on the imperialist) to enable (i) of the New Order regime, and (ii) the capitalist economy that is not industrialized; and especially (iii) demolition achievements achievements-national democratic revolution in Indonesia during 1900-1965 at the top of the citadel of socialist defeat in 1965 (the people must learn the history of New Order). In other words, is a victory (a) the political elite to the dictatorship of democracy and mass mobilization (b) neo-colonialism.
C. Neo-liberalism: The failure of political regime and economic elites, neo-colonial country and defend the people from the globalization of neo-liberalism-which is the most malignant form of the new neo-colonialism, capitalism and the crisis of international significance increase profits from the investment-investment, so that require increased extortion.

Who fought furiously, who fought a half-hearted, and who their enemies?

Historically should note:
A. Social strength (strength class), which moves from period to period. Role of youth, a young intellectual, poor traders, laborers and farmers in the resistance against colonialism until 1949; the development of the movement "socialism a la Indonesia" the period 1949-65, and in resistance to the New Order in the phase.
B. History of who organize and fight for the idea (a) the mass action and (b) socialism a la Indonesia in all this period, which should also describe the figures and ideas, idea, and also a growing political organization.
C. The situation now.
Historically must described:
A. The strength of social (class) which is capable of and concerned with (proletarian and students, with the special position of the mass majority, that is, mass semi-proletarian and bourgeois small-impoverished and oppressed the poor, the city / town and village Marhaen)
B. Who is the enemy of the people in the country and why: the remnants of New Order, the military, reformis fake, fake nationalist, all of which stand at the top of the class interests of capitalists in the country with all the conflict-conflict. Who musah abroad: imperialistic, imperialist pemrintah-government, international financial institutions, MNC companies and international banks
C. Who strategic partners in and outside the country, both in class and organization. In explaining aspects of the organization in the country must be accompanied with a thorough explanation, sensitive, humble, but to the scientific situation fragementasi pioneering. Strategic partners prospective partners is unity.
D. Who tactical ally: this changed from time to time, can force the social (class or a part of a class), can be individuals or organizations.