Home Direction Mayday: Bukan Sekadar Perayaan Biasa
Bookmark and Share
Direction
Mayday: Bukan Sekadar Perayaan Biasa PDF
Written by Ganjar Krisdiyan   
There are no translations available.

Mayday

Hidup Buruh!

Kurang dari dua bulan lagi, kaum buruh sedunia akan memperingati suatu momentum penting yang akan jatuh tepatnya pada tanggal 1 May 2010, satu hari yang sangat mengandung arti historis (sejarah) dari perjuangan kaum buruh melawan kekuasaan pemilik modal (kapitalis) dan Negara yang menindasnya.

Sejarah Singkat Lahirnya 1 Mei

Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis Barat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, telah menuai amarah dan perlawanan dari kalangan baruh. Pada masa itu kaum buruh diharuskan bekerja selama 19 sampai 20 jam per harinya. Kaum buruh memulai perjuangan untuk menuntut dikuranginya jam kerja, bagi buruh, tuntutan ini kemudian menjadi agenda bersama untuk diperjuangkan.pada tanggal 1 May 1886, sekitar 400.000 buruh mengadakan demonstrasi besar-besaran, yang kemudian mendapat represi dari Polisi, para demonstran ditembaki sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnnya dihukum mati (dikenal dengan tragedi Haymarket 4 mei 1886).

Peristiwa tersebut kemudian ditetapkan sebagai momentum hari buruh pada Kongres Sosialis Dunia dibulan Juli 1889, yang diselenggarakan di Paris, dan mengeluarkan resolusi bahwa “Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari”.

Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan Mayday,diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka. Indonesia pada tahun 1920 juga mulai memperingati hari Buruh tanggal 1 Mei ini, namun sejak Orde Baru berkuasa, peringatan seperti itu dilarang pemerintah.

Bagaimanakah Kondisi Kaum Buruh Sekarang?

Sistem kapitalisme terbukti telah menyengsarakan jutaan kaum buruh dan rakyat miskin lainnya, krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun lalu dan hingga sekarang dampaknya masih kita rasakan, telah membuat jutaan buruh menjadi pengangguran baru, pemotongan subsidi dan jaminan sosial kesejahteraan rakyat, penyalahgunakan uang dari rakyat yang dikumpulkan Negara lewat pajak untuk menalangi perusahaan-perusahaan yang bangkrut dan lain sebagainya.
Didalam sistem kapitalisme, rakyat terutama kaum buruhlah yang selalu menjadi korban, saat ini misalnya, kita dapat merasakan sendiri bagaimana sistem ini telah membuat tenaga kita dihargai sangat murah, upah yang kita terima masih jauh dikatakan layak, seringkali kita terpaksa harus lembur untuk menutupi kebutuhan hidup yang terus meningkat, sehingga kita tidak punya lagi kesempatan untuk beristirahat, bersosialisasi dengan keluarga atau teman, belajar dan lain sebagainya. Tidak hanya itu saja, dari hari ke hari kaum buruh juga semakin tidak memiliki kepastian kerja, maraknya praktek outsourcing, sistem kerja kontrak dan telah membuat posisi kaum buruh lemah dihadapan kapitalis, dapat sewaktu-waktu di PHK jika perusahaan menghendaki dan masih banyak praktek-praktek lainnya.

Lalu apa peran Negara selama ini untuk melindungi kaum buruh?

Selama ini negara hanyalah bertindak sebagai pembela setia kaum kapitalis, pemerintahlah yang selama ini menetapkan upah murah bagi buruh, menetapkan undang-undang outsourcing dan sistem kontrak yang merugikan posisi tawar kaum buruh dan lain sebagainya, yang itu semua diberlakukan di pabrik-pabrik tempat kita bekerja..
Pemerintah melalui dinas tenaga kerja dan transmigrasinya (disnakertrans) juga tidak pernah membela kaum buruh, kasus-kasus perburuhan yang diajukan ke disnakertrans tidak pernah dimenangkan atau seringkali disnakertrans mencari-cari kelamahan kaum buruh ketika berhadapan dengan pengusaha.
Semua ini tidaklah lepas dari karakter/watak dari Negara kapitalis, peraturan-peraturannya, kebijakan-kebijakannya, pengawasannya terhadap praktek-praktek yang merugikan kaum buruh selalu ada di depan kita.

Apa Yang Harus Kita Lakukan?

Satu-satunya jalan agar kaum buruh bisa terbebas dari semua penindasannya dan penghisapannya kapitalisme adalah segera menggantikan sistem tersebut dengan cara terlibat dalam aksi-aksi rakyat dan kaum buruh, membuat persatuan-persatuan disesama serikat buruh dan organisasi rakyat yang lain membangun Sosialisme.

 

KPRM-PRD's Note

Origin of the Economy, Politics, and Culture Crisis of Indonesia.

A. 350 years Colonialism : Inheritance colonialism in Indonesia.
B. Stronghold defeat "socialism a la Indonesia" (citadel of mass mobilization-farm labor) in 1965 (which sought a way to build a democracy that Indonesia does not depend on the imperialist) to enable (i) of the New Order regime, and (ii) the capitalist economy that is not industrialized; and especially (iii) demolition achievements achievements-national democratic revolution in Indonesia during 1900-1965 at the top of the citadel of socialist defeat in 1965 (the people must learn the history of New Order). In other words, is a victory (a) the political elite to the dictatorship of democracy and mass mobilization (b) neo-colonialism.
C. Neo-liberalism: The failure of political regime and economic elites, neo-colonial country and defend the people from the globalization of neo-liberalism-which is the most malignant form of the new neo-colonialism, capitalism and the crisis of international significance increase profits from the investment-investment, so that require increased extortion.

Who fought furiously, who fought a half-hearted, and who their enemies?

Historically should note:
A. Social strength (strength class), which moves from period to period. Role of youth, a young intellectual, poor traders, laborers and farmers in the resistance against colonialism until 1949; the development of the movement "socialism a la Indonesia" the period 1949-65, and in resistance to the New Order in the phase.
B. History of who organize and fight for the idea (a) the mass action and (b) socialism a la Indonesia in all this period, which should also describe the figures and ideas, idea, and also a growing political organization.
C. The situation now.
Historically must described:
A. The strength of social (class) which is capable of and concerned with (proletarian and students, with the special position of the mass majority, that is, mass semi-proletarian and bourgeois small-impoverished and oppressed the poor, the city / town and village Marhaen)
B. Who is the enemy of the people in the country and why: the remnants of New Order, the military, reformis fake, fake nationalist, all of which stand at the top of the class interests of capitalists in the country with all the conflict-conflict. Who musah abroad: imperialistic, imperialist pemrintah-government, international financial institutions, MNC companies and international banks
C. Who strategic partners in and outside the country, both in class and organization. In explaining aspects of the organization in the country must be accompanied with a thorough explanation, sensitive, humble, but to the scientific situation fragementasi pioneering. Strategic partners prospective partners is unity.
D. Who tactical ally: this changed from time to time, can force the social (class or a part of a class), can be individuals or organizations.