| Buruh Turun ke Jalan, Batalkan Kenaikan TDL dan Serukan Ambil Alih Industri Nasional |
|
| Written by Dian Septi Trisnanti |
|
There are no translations available.
Senin (12 Juli 2010), di tengah teriknya matari, puluhan buruh yang tergabung dalam PPBI (Persatuan Pergerakan Buruh Indonesia) menggelar demonstrasi di depan Istana, menuntut pembatalan kenaikan TDL dan mengambil alih industri nasional di bawah kontrol rakyat. Sebelum menggelar aksi di istana, puluhan buruh PPBI melakukan aksi protes di Depnaker menuntut penyelesaian berbagai kasus di daerah seperti buruh PT. WRP di Sumatra Utara, buruh tambang BJE (Bara Jaya Energi) Kalimantan Timur, buruh PT. Nissin di Bekasi, buruh supir Bandara di Kaltim, buruh PT. Indofood Bekasi, buruh PT. Mikro Bandung. Dalam orasi-orasinya, beberapa aktivis buruh PPBI dari berbagai daerah menuntut kepada Depnaker supaya bertanggung jawab terhadap kasus pelanggaran terhadap buruh seperti PHK sepihak, intimidasi, union busting dan berbagai kasus lainnya. Selama ini, pihak Disnaker di daerah maupun Depnaker di tingkat nasional selalu abai terhadap nasib buruh tertindas. Kasus terus bertambah, akan tetapi tak ada satu pun yang terselesaikan. Buruh, tetap menjadi pihak yang dirugikan. Setelah puas berorasi di depan Depnaker, puluhan massa aksi pun bergerak menuju istana, sementara beberapa delegasi dari masing-masing buruh yang berkasus melanjutkan negosiasi dengan pihak Denaker. Terik matari begitu menyengat membakar tubuh, peluh keringat tampak membasahi para peserta aksi massa. Akan tetapi, semangat massa aksi tak jua pudar. Dengan membentangkan spanduk pembatalan kenaikan TDl dan penolakan terhadap kenaikan harga, secara bergiliran aktivis buruh berpidato. Ketua Umum PPBI, Ata B. Udi, menyatakan kenaikan TDL telah merugikan buruh. Akibat kenaikan TDL sektor industri, banyak perusahaan mengalami kenaikan biaya produksi dan dengan alasan tersebut pihak perusahaan bisa melakukan pemecatan sepihak atas nama efisiensi. Dengan demikian, buruh semakin dimiskinkan. Karena itu tidak ada cara lain selain kaum buruh menyatukan kekuatan dan menumbangkan kapitalisme dan rejim pendukungnya, SBY-Budiono. Di dalam pernyataan sikap PPBI, PPBI menyatakan kenaikan TDL ini sebagai dampak dari liberalisasi energi yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia, SBY-Budiono. Akibat liberalisasi energy, rakyat Indonesia tak bisa menikmati kekayaan alamnya. Karena itu pembangunan industri nasional harus dilakukan di bawah kontrol rakyat. PPBI untuk pertama kali pasca kongres ini, juga didukung oleh beberapa organisasi massa seperti Pembebasan, PPRM, Perempuan Mahardhika dan satu partai politik, KPRM-PRD. Zely Ariane, dari KPRM PRD membuka pidatonya dengan menunjukkan headline harian Kompas tentang dampak kenaikan TDL. Kepada para aparat, Zely menunjukkan berita tersebut dan meminta mereka untuk membacanya tapi tak satu pun bergeming. Zely Ariane kemudian menyatakan bahwa kebijakan kenaikan TDL yang diterapkan oleh SBY-Budiono akan semakin memiskinkan rakyat, termasuk buruh. Kebijakan tersebut adalah kebijakan yang melapangkan kapitalisme untuk terus berkembang di Indonesia, menyebabkan jutaan orang hidup dalam kemiskinan, tak mampu mengakses pendidikan dan kesehatan. Tak ada jalan lain, kapitalisme harus ditumbangkan dan sosialisme sebagai jalan keluar harus terus diperjuangkan. Dalam hal ini, kelas pekerja memiliki peran penting dalam perjuangan menuju sosialisme. Selain itu, persatuan yang konsisten mesti terus diupayakan dalam menumbangkan kapitalisme dan rejim bonekanya. Setelah berjam-jam melakukan aksi dengan penjagaan ketat aparat kepolisian, akhirnya aksi ditutup dengan mengumandangkan lagu Internasionale. Tangan kiri pun teracung ke atas, dan massa aksi kemudian membubarkan diri. *** Massa PPBI Serukan SBY-Boediono Lengser Laporan wartawan Tribunnews.com, Alie Usman. http://www.tribunnews.com/2010/07/12/massa-ppbi-serukan-sby-boediono-lengser "Ini merupakan kekuatan kecil, dalam waktu dekat, mungkin sekitar dua tiga minggu kedepan, kami akan aksi besar-besaran massa buruh berkaitan dengan tema kenaikan tarif listrik tersebut. Kami akan gelar aksi massa yang besar usai gerakan hari ini," ujar Budi. |



