|
Written by Pokja Anti Hutang Yogyakarta
|
|
There are no translations available.

Bagus Kurniawan - detikNews Yogyakarta - Belasan massa tergabung Pokja Anti Utang Yogyakarta mendatangi pertemuan sosialisasi utang untuk proyek pembangunan jalan yang digelar di Hotel Santika Yogyakarta. Mereka menolak adanya utang karena tidak dilakukan melalui mekanisme yang berlaku antara pemberi utang dan rakyat/warga yang terkena proyek. Aksi Pokja Anti Utang itu dimulai dari Asrama Mahasiswa Aceh di Jl Kartini, Sagan Yogyakarta seusai menggelar acara diskusi. Dari tempat itu mereka kemudian menuju Hotel Santika di Jl Jenderal Sudirman Yogyakarta. Di hotel tersebut tengah digelar pertemuan sosialisasi pembangunan berbagai proyek jalan Tol di Indonesia termasuk proyek jalan lintas selatan di Yogyakarta yang dibiayai oleh Asian Developement Bank (ADB).
Sebelum aksi longmarch dimulai puluhan aparat Poltabes Yogyakarta telah berjaga-jaga di Asrama Aceh. Sekitar satu peleton anggota Poltabes Yogyakarta juga berjaga-jaga di depan Hotel Santika.
Usai berdikusi, massa kemudian menggelar aksi di halaman asrama. Seperti aksi pada umumnya peserta juga membawa poster dan spanduk. Beberapa poster diantaranya bertuliskan 'Bukan utang ADB tapi nasionalisasi tambang di bawah kontrol rakyat, Tolak utang ADB, IMF, Bangun kemandirian bangsa, Tolak bayar utang elit'. Mereka juga meneriakkan yel-yel 'tolak hutang' berkali-kali.
Dalam orasinya, salah seorang peserta aksi menyatakan warga Yogya menolak adanya utang baru melalui ADB untuk proyek pembangunan jalan lintas selatan di wilayah DIY. Sebab proyek tersebut tidak melalui mekanisme yang berlaku dan tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat. Mereka juga mempertanyakan hutang yang akan menjadi rebutan para elit dan parpol untuk dikorupsi.
Bila proyek itu tetap dijalankan akan banyak rakyat yang menjadi korban. Keterlibatan rakyat dalam konsultasi publik tak perlu dilakukan. Utang melalui ADB dan korporasi swasta ini jelas menunjukkan kebijakan yang pro pasar atau neoliberal.
"Utang ini juga bukan main-main dengan bunga tinggi 7 persen karena Indonesia dianggap negara mampu. Indonesia akan mengorbankan APBN untuk bayar cicilan utang," kata salah seorang peserta aksi Hikmah.
Ketika massa tiba di Hotel Santika, massa tidak diperbolehkan masuk oleh aparat kepolisian dan petugas satpam hotel. Sambil melakukan negosiasi mereka menggelar aksi damai di depan pintu gerbang hotel. |