Arah
| STALINISME, MAOISME DAN REVOLUSI CINA (II) |
|
| Oleh Doug Lorimer |
|
Komintern dan Kuomintang Massa petani tersebut harus memenangkan seluruh sisi revolusi. Gerakan buruh Cina baru saja belajar berjalan. Kita tidak sedang membangun istana awang-awang dalam waktu dekat ini, kita tidak berharap kelas pekerja Cina bisa mengambil posisi komando… dalam waktu dekat ini. Tetapi gerakan buruh Cina yang masih muda ini sedang tumbuh… Kita mendukung semua gerakan nasional-revolusioner, tetapi kita hanya mendukungnya sepanjang hal tersebut tidak berlawanan dengan gerakan proletar. Kita harus mengatakan: siapa yang mendukung perjuangan revolusi proletar komunis tetapi tidak mendukung gerakan revolusi nasional adalah pengkhianat. Namun, di sisi lain, kita juga akan mengatakan: saiapa yang mendukung perjuangan nasional tapi menentang kebangkitan gerakan proletar adalah pengkhianat, pengkhianat terhadap rakyatnya dan pengkhianat terhadap perjuangan nasionalnya karena menghalangi perjuangan kelas pekerja Cina untuk berdiri di atas kakinya sendiri dan bicara dengan bahasanya sendiriterhadap negaranya karena siapa yang menghalangi kelas pekerja Cina dalam usahanya untuk berdiri diatas kakinya sendiri dan berbicara dengan bahasanya sendiri….segala pembicaraan tentang negara sosialisme di Cina… sebelum massa Cina (yang dihisap) cukup matang untuk memperjuangkan sebuah Republik Sovyet, maka hal tersebut semata-mata hanyalah penipuan. Suatu hal yang penting adalah bahwa kelas pekerja seharusnya tidak mengisolasi diri dari massa petani Cina. Kelas pekerja harus bergandengan tangan dengan massa petani agar bisa memberikan cahaya, kebudayaan, dan gagasan-gagasan komunis. Tentu saja, Cina tidak dihadapkan pada revolusi komunis yang segera akan terjadi, dengan Sovietisasi secepatnya, tapi, pada waktu yang bersamaan… ide mengenai Sovyet—sebuah bentuk organisasi yang tepat untuk perjuangan revolusioner massa dan organ demokratik kekuasaan—harus diajarkan. Sovyet merupakan senjata terbaik di tangan pekerja setiap negeri, baik itu Negara dengan populasi proletar yang terbesar atau tani. [The First Conggress of the Toilers of the Far East (Petrograd, 1922), hal. 165-167, 173-174) Pada diskusi lanjutan atas laporannya, Safarov kembali mengulas tesis tersebut dalam catatannya: Kawan-kawan, pertanyaan mendasar dihadapkan pada konggres kita adalah pertanyaan mengenai hubungan timbal-balik dan pemahaman yang benar tentang hubungan timbal-balik tersebut, yakni hubungan antara gerakan nasional revolusioner, pada satu sisi, dan gerakan proletar revolusioner di negeri-negeri Timur Jauh, pada sisi lain,. Diskusi yang mengambil topik bahasan dari laporanku membuatku percaya bahwa beberapa kawan telah telah mengambil konsep yang salah mengenai hubungan timbal-balik tersebut. Demikian, misalnya, perwakilan dari Partai Homindan (Kuomintang), kawan Tao, menyatakan bahwa prinsip-prinsip sistem Sovyet dan tuntutan dasar dalam kaitannya dengan revolusi Sovyet bukan merupakan barang baru di Cina. Dia mengatakan, kalau aku tidak salah, Partai Homidan telah mempropagandakan ide-ide tersebut selama 20 tahun. Tentu saja, aku harap aku tidak perlu mempertanyakan perkembangan revolusioner partai tersebut, tetapi, aku yakin, bahwa dalam rangka untuk sampai pada pemahaman antara komunis, pada satu sisi, dengan nasionalis-revolusioner, di sisi yang lain, mutlak penting bagi kedua belah pihak untuk saling memahaminya secara benar. Kita tahu, bahwa partai yang yang memimpin pemerintahan Cina selatan merupakan sebuah partai demokratik-revolusioner, kita tak perlu mempertanyakan fakta ini… tetapi, di sisi lain, kita tidak akan terlalu naïf untuk membayangkan bahwa partai tersebut adalah partai komunis revolusioner… dari titik berangkat (platform) tersebut, titik berangkat yang sangat otoritatif, kita bisa memiliki keberanian untuk mengatakan, secara cukup terbuka dan gamblang bahwa kita harus mendukung, telah mendukung dan sedang memberi dukungan pada setiap gerakan borjuis-demokratik di negeri-negeri kolonial dan semi-kolonial, dengan pertimbangan bila gerakan borjuis-demokratik tersebut sungguh-sungguh memiliki tujuan mencapai pembebasan nasional rakyat tertindas… tapi, di sisi lain, kita tidak boleh mengakui bahwa perjuangan tersebut merupakan perjuangan kita yang sejati—perjuangan bagi revolusi proletar… jika kita membuat pernyataan tersebut, maka kita salah karena, dengan demikian, kita tidak mengemban kepentingan kelas pekerja dan petani Cina serta Korea, karena massa petani, massa proletar dan semi-proletar Cina dan Korea memiliki tugas lebih besar yang harus dikerjakan, ketimbang sekadar pembebasan nasional. Mereka dihadapkan pada tugas untuk membebasakan negerinya sepenuh-penuhnya… jika kami, Kaum Komunis Cina atau Korea melahirkan slogan pemerintah demokratik, pajak pendapatan yang seragam, nasionalisasi tanah, yakni, slogan revolusi demokratik, itu artinya kita telah menunjukkan bahwa kami siap untuk bekerjasama dengan seluruh organisasi-organisasi nasionalis demokratik yang tulus, jika mereka sungguh-sungguh mengemban kepentingan mayoritas pekerja negerinya (yang sedang dihisap). Tetapi di sisi lain, elemen-elemen proletar dan semi proletar harus diorganisir secara independen dalam oraganisasi kelas mereka. Organisasi yang kini terbentuk, berupa serikat-serikat pekerja kerajinan atau profesi yang terhubung langsung dengan Partai Homindan, tidak kami akui sebagai organisasi kelas. Organisasi-organisasi tersebut tidak memahami prinsip kelas, atau bukan organ perjuangan kelas proletar yang akan mebebaskannya. Karena itu, saat berurusan dengan kalian—para pendukung Partai Homindan—sebagaimana juga kepada sekutu-sekutu, teman-teman dan kawan-kawan kami, kami pada saat yang sama harus menyatakan pada kalian secara terbuka dan jujur: kami telah memberikan dukungan dan akan terus mendukung perjuangan kalian sejauh hal tersebut merupakan pemberontakan nasionalistik dan demokratik demi pembebasan nasional. Namun, pada saat yang sama, kami harus secara independen mengusung kerja-kerja komunis kami, yakni mengorganisir massa proletar dan semi-proletar Cina. Itulah kepentingan massa proletar itu sendiri, dan harus dikerjakan oleh kelas pekerja Cina, proletar Cina. Dalam situasi seperti itu, gerakan buruh Cina harus berkembang secara cukup independen dari kehendak-kehendak borjuis, partai-partai dan organisasi-organisasi demokratik… Selama periode sejarah tertentu, kita bisa menyusun pembagian kerja di antara kita, perwakilan dari revolusi proletarian, yakni, pada satu pihak, kelas proletariat dan elemen-elemen semi-proletarian di kalangan kaum tani; dan, di pihak lain, perwakilan dari elemen-elemen demokratik dan nasionalis radikal kebangkitan Cina. Bagaimanapunjuga, kedua pihak harus memahami bahwa pembagian kerja tersebut harus didasarkan satu kesepakatn sukarela. Massa proletarian tidak perlu membuang gagasan mereka sendiri, mereka tidak boleh mundur mengorganisir partai kelasnya sendiri. Hanya dibawah kondisi inilah persetujuan kerjasama dan sukarela dimungkinkan (ibid, pp. 192-194) Safarov kemudian memberikan sejumlah contoh (khusus) tentang ketidaksepakatan antara komintern dan perwakilan Kuomintang. Salah satunya dalam hal reformasi agraria yang menurut, Tao, hanya bisa dilaksanakan setelah teritori Cina sudah dibersihkan dan pasukan imperialis dan tuan tanah merupakan gugatan mengenai reformasi agrarian, yang diperdebatkan oleh Tao, yang hanya dapat diimplementasikan sesudah teritori Cina dibersihkan dari pasukan imperialis dan tuan tanah, sesudah republic demokratik berdiri di seluruh Cina. Untuk membantah pandangan tersebut, Safarov berargumen: Selama kita berkehendak mengorganisir massa di bawah bendera kita, dan berupaya agar mayoritas rakyat berjuang bersama kita, kita harus menyentuh kepentingan massa yang paling vital, dengan harapan massa bisa akan bersama kita sampai akhir, siap mati demi kepentingan kita dan mereka sendiri. Bagi petani dari Cina Selatan, persoalanatas nasionalisasi tanah bukan hal yang dapat diselesaikan dari atas, melalui perubahan administratif, bagi mereka hal tersebut merupakan kebutuhan vital. Karena itu kita harus mengusung pegangan revolusioner tersebut bahkan hingga ke pelosok terkecil negeri untuk menunjukkan pada petani Cina—yang hidup di daerah yang dikuasai oleh kekuatan yang bermusuha—bahwa begitu rejim demokratik telah bisa diwujudkan maka kehidupan petani akan seribu kali lebih baik, bahwa kepentingan mereka akan seribu kali lebih terjamin. (ibid, hal. 495) Safarov mengakhiri pidatonya dengan mengulangi pernyataan tentang tugas dari kaum komunis di negeri-negeri colonial dan semi-kolonial di Timur Jauh, Di negeri-negeri ini, partai komunis harus membantu menggulingkan penindasan imperialis dan mendukung tuntutan demokratik seperti nasionalisasi tanah, pemerintahan yang berdaulan dan lain-lain. Namun demikian, pada saat yang bersamaan, partai komunis tak seharusnya menanggalkan program komunis mereka, demikian juga mereka seharusnya tidak berhenti mengorganisir kelas pekerja dalam serikat buruh, independen dari pengaruh borjuis. Juga mereka tidak boleh berhenti mengorganisir kelas pekerja dalam partai komunis yang independen… Demikianlah, kami telah menjelaskan pokok pandangan kami dalam kaitannya dengan hubungan antara kami sendiri—kaum komunis—dengan perwakilan dari elemen-elemen borjuis-demokratik dan nasionalis-demokratik dengancukup jelas dan tanpa syarat. Kami berusaha mencegah adanya kebingungan dalam pandangan kami mengenai persoalan ini. Kami sungguh-sungguh berjuang untuk menghindari semua upaya yang tak perlu dan tak berguna dalam menggambarkan seluruh kaum nasionalis dalam pandangan kaum komunis, meskipun terhadap sejumlah nasionalis yang sedang berjuang untuk menuntut persamaan antara kapitalisme Cina dan Jepang. Kami mengatakan, dengan cukup jujur, bahwa kami mendukung borjuis-nasionalis—borjuis masa depan—karena imperialis Jepang, Amerika dan Inggris adalah kekuatan yang paling reaksioner. Terus terang saja, saat ini kami tak takut mendukung borjuis-nasionalis, yang sedang berjuang membebaskan tenaga produktif Cina dan Korea dari penindasan kapitalisme asing. Di sisi lain, bagaimanapun juga, kami sungguh-sungguh menuntut borjuis-demokratik ini, elemen-elemen radikal-demokratik, bahwa mereka tidak melakukan usaha untuk mendominasi gerakan buruh yang masih muda di Cina dan Korea, dan bahwa mereka tidak akan melakukan upaya untuk menyelewengkannya dari cita-citanya untuk digantikan dengan cita-cita radikal-demokratik yang diselubungi warna Sovyet. Kita akan lebih mudah memiliki saling pengertian jika kita, satu sama lain, saling memberitahukan tentang siapa kita sebenarnya (ibid, hal. 199)
|
Catatan KPRM-PRD
Asal-usul Krisis Ekonomi, Politik, dan Budaya Indonesia.
A. Kolonialisme 350 tahun: Warisan kolonialisme pada Indonesia Merdeka.B. Kekalahan kubu “sosialisme ala Indonesia” (kubu mobilisasi massa buruh-tani) pada tahun 1965 (yang mencari jalan kerakyatan untuk membangun Indonesia yang tidak tergantung pada imperialis) sehingga memungkinkan (i) pendirian rejim Orde Baru; dan (ii) ekonomi kapitalis yang tak berindustri; serta terutama (iii) penghancuran capaian-capaian revolusi nasional demokratik Indonesia selama 1900-1965 di atas kekalahan kubu sosialis pada tahun 1965 (rakyat harus belajar sejarah Orde Baru). Dengan kata lain, merupakan kemenangan (a) kediktatoran politik elit terhadap demokrasi mobilisasi massa dan (b) neo-kolonialisme.
C. Neo-liberalisme : Ketidakmampuan rejim politik elit ataupun ekonomi neo-kolonial membela rakyat dan negeri dari serangan globalisasi neo-liberalisme—yang merupakan bentuk ganas yang paling baru neo-kolonialisme—dan krisis kapitalisme internasional—yang kepentingannya memperbesar keuntungan dari investasi-investasinya, sehingga membutuhkan peningkatan pemerasan.
Siapa yang berjuang mati-matian, siapa yang berjuang setengah hati, dan siapa musuh-musuhnya?
Secara historis harus diketahui:A. Kekuatan sosial (kekuatan kelas) yang bergerak dari masa ke masa. Peranan pemuda, intelektual muda, pedagang miskin, buruh dan tani dalam perlawanan terhadap kolonialisme sampai tahun 1949; terhadap pembangunan gerakan “sosialisme ala Indonesia” periode 1949-65; dan dalam perlawanan terhadap Orde Baru dalam tahap-tahapnya.
B. Sejarah siapa yang mengorganisir dan memperjuangkan ide (a) aksi massa dan (b) sosialisme ala Indonesia dalam semua periode tersebut, yang juga harus menggambarkan figur dan ide-idenya, serta juga organisasi politik yang berkembang.
C. Situasi sekarang.
Secara historis harus dijelaskan:
A. Kekuatan sosial (kelas) mana yang berkepentingan dan yang mampu melawan (proletar dan mahasiswa, dengan menjelaskan kedudukan khusus dari massa mayoritas,yakni massa semi-proletar dan burjuis kecil yang melarat dan tertindas—kaum miskin kota/Marhaen desa dan kota).
B. Siapa musuh rakyat dalam negeri dan mengapa: sisa-sisa Orde Baru, militer, reformis gadungan, nasionalis gadungan, yang semuanya berdiri di atas kepentingan kelas kapitalis dalam negeri dengan semua konflik-konfliknya. Siapa musah luar negeri: imperialis, pemerintah-pemrintah imperialis, lembaga finansial internasional, perusahaan MNC dan bank-bank internasional.
C. Siapa sekutu strategis dalam dan luar negeri, baik secara kelas maupun organisasi. Dalam menjelaskan aspek organisasi dalam negeri harus disertai dengan penjelasan yang teliti, peka, rendah hati tapi ilmiah terhadap situasi fragementasi kepeloporan. Sekutu strategis adalah calon mitra persatuan.
D. Siapa sekutu taktis: ini berubah dari waktu ke waktu, bisa kekuatan sosial (kelas atau suatu bagian dari sebuah kelas), bisa individu, bisa organisasi.


