| STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (V) |
|
| Oleh Doug Lorimer |
|
Silang pendapat yang muncul di Moscow Gerakan massa pekerja Cina yang cenderung ke kiri merupakan suatu fakta yang pasti, sepasti fakta bahwa gerakan borjuis Cina semakin condong ke kanan. Karena selama ini Kuomintang telah membasiskan dirinya dalam politik dan organisasi serikat pekerja serta borjuis, maka keterikatan tersebut harus dilepaskan oleh tendensi yang berasal dari pusat-pusat perjuangan kelas. Tidak ada formula politik yang ajaib atau cara taktis yang lebih cerdas untuk melawan kecenderungan tersebut, tidak mungkin ada. Partisipasi Partai Komunis Cina dalam Kuomintang adalah benar pada periode ketika Partai Komunis Cina masih menjadi sebuah kelompok propaganda yang hanya menyiapkan dirinya demi aktivitas politik yang independen di masa mendatang tetapi, pada waktu yang bersamaan, harus ikut ambil bagian dalam perjuangan pembebasan nasional yang sedang berlangsung. Dua tahun terakhir ini sudah tampak kebangkitan gelombang pemogokan yang hebat di kalangan pekerja Cina… Fakta tersebut menghadapkan Partai Komunis Cina pada tugas untuk mewisuda kelas persiapan tersebut yang, sekarang, telah naik ke tahap yang lebih tinggi. Tugas politik yang mendesak tersebut harus sekarang juga diperjuangkan guna merebut kepimpinan langsung yang independen terhadap kebangkitan kelas pekerja—tentu saja bukan dalam rangka mengalihkan kelas pekerja dari kerangka perjuangan nasional-revolusioner, tetapi untuk menjamin perannya perjuang yang paling teguh, dan juga sebagai pimpinan politik yang memiliki hegemoni dalam dalam perjuangan massa Cina [Trotsky, The Chinese Communist Party and The Kuomintang, Leon Trotsky on China (New York, 1976), hal. 114-115] Dengan mengutip dari resolusi yang dikeluarkan oleh Komite Sentral Partai Komunis Cina, yang dikeluarkan pada pertemuan bulan Juli, 1926, Trotsky menulis: Mereka yang mendukung agar Partai Komunis Cina tetap berada di dalam Kuomintang berpendapat bahwa “Karena peran utama dalam komposisi basis organisasi Koumintang adalah borjuis kecil, maka memungkinkan kita untuk bekerja di dalam partai untuk waktu yang lebih lama dengan landasan politik kita sendiri.” Argumen ini benar-benar tidak waras… Berpikir bahwa kaum borjuis kecil bisa dimenangkan oleh maneuver yang pandai atau oleh saran yang bagus di dalam Kuomintang. merupakan utopianisme yang tak ketulungan. Partai Komunis akan lebih mampu memberikan pengaruh baik langsung maupun tidak langsung atas borjuis kecil di kota dan desa bila partai sendiri semakin kuat, yakni, semakin memenangkan pengaruh di kalangan kelas pekerja Cina. Tetapi hal tersebut hanya mungkin terjadi bila memiliki landasan sebuah partai kelas dan kebijakan kelas yang independen… Resolusi, dokumen, dan laporan (Partai Komunis Cina) mencatat, pertama, pertumbuhan sayap-kanan Kuomintang, lalu gerakan yang cenderung ke kanan dari pusat kepemimpinan Kuomintang dan, sesudah itu, kebimbangan dan perpecahan di kalangan Kuomintang lenyap. Dan semua itu diikuti dengan pola peningkatan penyerangan terhadap komunis. Sedangkan di sisi mereka (komunis), mereka secara pasti berangsur-angsur mengundurkan diri, dari satu posisi ke berikutnya di Kuomintang… Mereka setuju membatasi jumlah anggota komunis dalam badan pimpinan Kuomintang hingga tidak lebih dari 1/3nya. Mereka bahkan setuju untuk menerima suatu resolusi yang mendeklarasikan bahwa pengajaran Sun Yatsen di dalam partai tidak dapat diganggu gugat. Tetapi, seperti biasanya, setiap konsesi baru yang diberikan hanyalah semakin meningkatkan tekanan baru terhadap peran komunis di dalam kekuatan Kuomintang. Seluruh proses tersebut, seperti yang sudah kita katakan, benar-benar tak terelakkan, merupakan konskwensi dari perbedaan kelas…. Jalan keluarnya adalah, secara organisasional, menarik garis yang tegas, dan hal ini merupakan prasyarat yang dibutuhkan agar memiliki kebijakan yang independen, tetap amati, bukan saja sayap kiri Kuomintang tapi, di atas segalanya, adalah kesadaran pekerja. Hanya di bawah kondisi seperti itulah blok baik dengan Kuomintang maupun dengan elemen lain tidak lebih dari sebuah istana pasir. (Trotsky, ibid, hal. 114-119) Pada konferensi CPSU yang ke 15 di bulan Oktober, 1926, Bukharin mengatakan bahwa tugas utama Cina adalah berjuang melawan imperialisme, dan bahwa hal tersebut menuntut tetap dipertahankannya front persatuan dengan seksi industrial dan borjuis komersial yang tidak berkolaborasi dengan imperialisme. Sebulan kemudian Stalin sendiri memutuskan untuk mengirimkan sebuah pidato tentang kebijakan utama dalam masalah Cina. Ia berbicara pada komisi ECCI Cina pada tanggal 30 November, seperti ini: Tentara revolusioner Cina [didalamnya, juga tentara Chiang Kai-shek] merupakan faktor terpenting dalam perjuangan pembebasan pekerja dan petani Cina… Kemajuan orang-orang Canton dapat diartikan merupakan pukulan terhadap imperialisme dan pada agen-agennya di Cina; Hal tersebut berarti kebebasan menyelenggarakan pertemuan, kebebesan mengorganisir seluruh elemen revolusioner di Cina secara umum, dan untuk kelas pekerja secara khusus… Sebelumnya, pada abad ke-18 dan ke-19, revolusi biasanya dimulai dengan sebuah pemberontakan rakyat di bagian negeri yang paling tidak dipersenjatai atau miskin persenjataannya, mereka bertarung dengan rejim lama, mereka berusaha memathakan semangatnya atau, setidaknya, memenangkan sebagian dari mereka agar menyebrang pihak mereka. Itulah bentuk tipikal pemberontakan revolusioner di masa lalu. Itulah yang terjadi di sini, di Rusia, pada tahun 1905. Di Cina, revolusi dilakukan dengan cara yang berbeda. Di Cina, pasukan pemerintah lama bukan dihadapi oleh rakyat tak bersenjata, tetapi oleh rakyat yang bersenjata, dalam wujud tentara revolusioner. [J.V Stalin, The Prospects of the Revolution in China, On the opposition (Beijing, 1974) hal. 504-505] Selanjutnya, dia setuju dengan karakter pemerintah Canton dan prospek untuk mendirikan sebuah pemerintahan revolusioner di Cina. Pemerintahan Canton, menurutnya, “adalah cikal-bakal seluruh pemerintahan revolusioner di masa yang akan datang di Cina.” Ia pun menambahkan: …pemerintah ini, tidak bisa tidak, bisa menjadi pemerintahan yang anti-imperialis, yang setiap kemajuannya merupakan pukulan bagi dunia imperialisme—dan konsekuensinya, suatu pukulan yang akan menguntungkan dunia gerakan revolusioner… Atas landasan inilah, maka diletakkan tugas Komunis Cina dalam hal sikapnya terhadap Kuomintang dan pemerintah revolusioner yang akan datang di Cina. Dikatakan bahwa Komunis Cina harus mengundurkan diri dari Kuomintang. Tentu saja hal tersebut salah, kawan. Mundurnya golongan Komunis Cina dari Kuomintang pada saat ini akan menjadi sebuah kesalahan besar. Dari keseluruhan cara, karakter dan prospek revolusi Cina, tanpa diragukan lagi membenarkan cara yang ditempuh Komunis Cina—tetap bertahan dalam Koumintang, dan meneruskan kerja-kerja mereka. [Stalin, ibid, hal. 507-509] Dengan penuh keyakinan dapat memberikan jawaban terhadap masalah tersebut, Stalin segera mengalihkan isu ke petani di Cina. Dalam hal ini dia mengambil contoh dari kasus yang dikemukakan oleh perwakilan komintern di Cina, Pavel Mif, yang menganjurkan Partai Komunis Cina untuk mengangkat slogan mengenai pembentukan soviet petani: …bicara mengenai Sovyet saat ini juga akan menjadi terlalu jauh ke depan. Konsekwensinya, pertanyaan yang harus diajukan sekarang ini bukanlah mengenai Sovyet melainkan tentang pembentukan komite petani. Dalam bayanganku, komite petani tersebut dipilih oleh petani, komite harus memiliki kemampuan untuk memformulasikan tuntutan dasar dari petani, dan yang akan mengambil berbagai pertimbangan untuk menjamin terwujudnya tuntutan tersebut dengan cara yang revolusioner. Komite petani ini harus dianggap sebagai poros yang akan memperngaruhi daerah sekelilingnya sehingga revolusi di daerah pedesaan akan berkembang [Stalin, ibid, p. 509] Perbedaan antara petani Sovyet dengan “komite petani yang dipilih oleh petani” yang, secara revolusioner, sadar betul akan tuntutan petani, mungkin hanya dapat ditemukan oleh seorang Stalin formalis birokratik itu! Saat melanjutkan pidatonya, ia mengajukan pertanyaan: Bagaimana cara dan alat yang harus digunakan oleh kaum revolusioner Cina agar mampu membangkitkan massa petani Cina (yang luar biasa banyaknya) menuju revolusi? Saya pikir, dalam kondisi seperti ini, orang harus mengajukan 3 cara. Cara pertama, adalah dengan menidrikan komite petani dan, dengan kaum revolusioner Cina masuk dalam komite ini, mereka dapat memberi pengaruh kepada para petani……(Meskipun demikian, hal ini) menggelikan juga berpikir bahwa tersedia cukup kaum revolusioner di Cina untuk tugas tersebut… Konsekuensinya, harus ada beberapa cara tambahan. Cara kedua, adalah dengan mempengaruhi para petani melalui apparatus pemerintah rakyat revolusioner baru. Tak diragukan lagi bahwa di provinsi baru yang telah dibebaskan, pemerintahan baru yanng akan dirancang akan mengikuti tipe pemerintah Canton (yakni, pemerintah Kuomintang). Tak diragukan lagi bahwa otoritas tersebut beserta aparatusnya diharuskan untuk memenuhi tuntutan mendesak kaum petani jika ingin benar-benar memajukan revolusi. Nah, kemudian, tugas kaum komunis Cina secara umum adalah masuk ke dalam pemerintahan baru tersebut… (Stalin, ibid, hal. 511-512) Apa maksud penjelasan di atas terbuka pada bulan berikutnya, setelah Kuomintang mendirikan pemerintahan yang baru di Wuhan, Cina Pusat. Dua anggota Partai Komunis Cina terpilih menjadi menteri dalam pemerintahan tersebut—bertugas di departemen buruh dan pertanian. Dalam pidatonya pada konggress ke-15 CPSU, bulan Desember, 1927, F. Chitarov, sekretaris Stalinis dari Pemuda Komunis Internasional, yang baru saja kembali dari Cina, melaporkan, “Selama menjabat sebagai mentri, tak satu pun hukum yang mereka hasilkan untuk meningkatkan posisi buruh dan tani.” [Dikutip dari Trotsky, Stalin and the Chinese Revolution: Facts and Documents, ibid, hal. 457] Cara ketiga yang bisa dilakukan oleh kaum revolusioner untuk mempengaruhi kaum petani adalah “melalui tentara revolusioner”, yakni, melalui tentara Chiang Kai-Shek. Komunis Cina, menurut Stalin, harus “memastikan bahwa tentara membantu para petani dan membangkitkannya untuk melakukan revolusi” (Stalin, ibid, p. 512) Kedua “cara tambahan” mengenai pengorganisiran gerakan petani tersebut telah memberikan klarifikasi tentang perbedaan antara petani Sovyet—yakni yang memiliki badan kekuasaan popular yang berdaulat dan demokratik di pedesaan—sementara konsep Stalin adalah “komite petani”—badan yang akan berada di bawah pengawasan pemerintah Kuomintang dan tentaranya secara umum. Akhirnya, Stalin menyatakan bahwa “persoalan kaum muda merupakan salah satu isu utama yang sangat penting di Cina saat ini,” dan tambahan penjelasannya: “Pemuda pelajar (pelajar-mahasiswa revolusioner), pemuda petani—semuanya merupakan suatu kekuatan menentukan yang dapat memajukan revolusi dengan langkah raksasa, jika disubordinasikan pada pengaruh politik dan ideologi Kuomintang.” (ibid, hal. 514-515) Pidato Stalin kemudian menajdi landasan bagi resolusi yang diterima oleh pertemuan ECCI ke-7 pada tanggal 26 Desember, 1926. Pentingnya perkembangan di Cina bagi birokrasi Sovyet ditunjukkan dalam pleno pertemuan tersebut, saat Tan Ping-shan, ketua delegasi Partai Komunis Cina, pembicara pertama setelah pertemuan dibuka oleh pidato sambutan dari Bukharin, dan segera diikuti oleh perwakilan dari Kuomintang (yang telah menjadi “partai yang mendapat simpati” dari Komintern). Dalam laporan pada pleno ECCI tersebut—yang akan membuat resolusi tentang Cina—Bukharin semakin memperjelas bahwa tujuan utama Partai Komunis Cina adalah “Mengkonsolidasikan seluruh elemen kekuatan melawan imperialism asing beserta pendukung ‘militeris’ mereka, dan tugas lain tidak dapat dilakukan tanpa “melewati tahap sebagai perjuangan revolusioner tersebut”. (Dikutip dari Carr, ibid, hal. 727) Dalam laporannya (kepada pleno) tentang situasi di Cina, Tan menyatakan: Sejak didirikannya pemerintahan baru di Canton pada bulan Juli yang lalu, yang nominalnya saja pemerintahan kiri, namun sesungguhnya kekuasaannya berada di tangan kaum kanan… gerakan buruh dan petani tidak dapat berkembang dengan leluasa akibat berbagai hambatan… Secara praktis, kami telah mengorbankan kepentingan buruh dan petani… sesudah negosiasi yang panjang dengan kami, pemerintah tidak juga mengeluarkan hukum perburuhan… Pemerintah tidak bersedia memenuhi tuntutan kaum petani, yang kami tuntut atas nama berbagai organisasi sosial. Ketika muncul konflik antara tuan tanah besar dengan petani miskin, pemerintah selalu berada di pihak tuan tanah (Dikutip dari Trotsky, The Chinese Revolution and the Theses of Comrade Stalin, ibid, hal. 166-167) Dalam diskusi, Dmitri Manuilsky, seorang anggota Sekretariat Presidium Komintern, dan ketua jurubicara Stalin untuk Komintern sesudah tahun 1930, lebih jelas lagi mencerminkan bagaimana sebenarnya birokrasi Stalin memandang Cina. Dia tidak menunjukkan ketertarikannya pada kebijakan Partai Komunis Cina atau Komintern, melainkan hanya pada posisi internasional Cina—yang sedang menghadapi 3 kekuatan imperialis di Pasifik (yakni, Amerika, Inggris dan Jepang)—dan, dengan demikian, lebih memperjelas bahwa aliansi diplomatik antara Moscow dan pemerintahan Koumintang dalam melawan ketiga kekuatan tersebut lebih menjadi perhatian utama. Pada tanggal 3 Maret, 1927, Karl Radek, seorang pendukung oposisi terhadap CPSU, anggota presidium ECCI Komintern, mengirimkan sebuah memorandum kepada Trotsky yang, sementara tetap melakukan pembelaan terhadap “pandangan kita tentang ketidaksetujuan bahwa Partai Komunis Cina masuk ke dalam Kuomintang,” berpendapat bahwa, pada tahap revolusi sekarang ini, pengunduran diri dari Kuomintang tidaklah praktis; Partai Komunis Cina seharusnya, bagaimanapun juga, didorong untuk mengambil garis politik independen. Hari berikutnya Trotsky menulis balasan pada Radek, yang banyak mengulang kembali argumennya yang ditulis pada memorandum di bulan September, 2006, beserta tambahannya: Kita harus menyadari bahwa bila Partai Komunis Cina berada lebih lama lagi di dalam Kuomintang tampaknya akan membawa konsekuensi yang mengerikan bagi kaum proletar dan revolusi dan, di atas semuanya, hal tersebut membuat Partai Komunis Cina sendiri turun menjadi Menshevisme. (Trotsky, Second letter to Radek, ibid, hal. 124) Diperkuat oleh argumen Trotsky, Radek bersiap memulai sebuah serangan publik terhadap kebijakan Stalin dalam soal Cina. Pada kematian Sun Yatsen di tahun 1925, dan diulang pada peringatannya yang pertama, Radek menulis artikel (untuk memperingatinya) di Pravda. Pada tahun 1927, artikel tersebut tidak muncul di Koran CPSU melainkan dalam harian pemerintah, Izvestiya. Walaupun tidak secara terbuka menyerang kebijakan Komintern, Radek menyertakan pesan ini: Borjuis Cina, yang terlibat dalam gerakan nasional revolusioner berupaya memberi pukulan pada sektor kiri—golongan Komunis dan sayap kiri Kuomintang. (Izvestiya, 15 Maret 1927; disebutkan dalam Carr, ibid, hal. 756) Tiga hari kemudian, jurnal Komintern memuat sebuah artikel yang menegaskan bahwa “Kepemimpinan Kuomintang saat ini sedang lesu, kekurangan darah pekerja dan petani revolusioner. Partai Komunis Cina harus memberikan bantuan berupa infusi darah, afar situasi berubah secara radikal. “ (Dikutip dari Trotsky, Stalin and the Chinese Revolution: Facts and Documents, ibid, hal. 451) Pada tanggal 22 Maret Trotsky menulis memorandum lain, yang mengatakan: Aku baru saja menerima telegram yang memberitakan bahwa Shanghai telah dikuasai pasukan Nasionalis. Semakin luas daerah yang dikuasai oleh kaum Nasionalis dan semakin kuat pula Kuomintang membentuk karakternya sebagai partai penguasa, maka ia semakin menjadi borjuis. Dikuasainya Shanghai oleh kekuasaan pemerintahan Nasionalis akan menentukan karakter sejatinya. Pada saat yang bersamaan, kita membaca pidato Kalinin dan Rudzutak, yang menguraikan dan mengulang gagasan bahwa pemerintah Nasionalis merupakan pemerintahan semua kelas dari rakyat Cina (itulah menurut mereka; benar-benar-benar kata-kata mereka!). Dengan begitu, tampaknya di Cina sebuah pemerintahan bisa berdiri dengan mengabaikan garis kelas. Marxisme sepenuhnya telah dilupakan. Lupa bahwa Lenin pernah menulis tesis tentang demokrasi (Konggres Komintern ke-I). Ketika kalian membaca hal semacam itu di Pravda, segera anda tak percaya pada mata anda, membacanya kembali dan membacanya lagi… Kenyataannya, dalam persoalan tersebut, Kalinin dan Rudzutak mengekspresikan sepenuhnya kebijakan Partai Komunis Cina, atau lebih tepatnya kebijakan Komintern saat ini dalam mengahadapi persoalan Cina. Dengan kebijakan saat ini, semakin besar kesuksesan revolusi nasional di Cina, maka semakin hebat pula bahaya yang mengintai kita… Tidak diragukan lagi bahwa pemerintahan Nasionalis di Cina—begitu bisa menguasai teritori yang sangat besar, akan mendapatkan dirinya berhadapan dengan masalah-masalah yang begitu besar dan sangat sulit, belum lagi ia membutuhkan modal asing dan setiap hari harus mengahadapi perlawanan pekerja—akan dengan cepat mengambil langkah ke kanan, condong ke Amerika, dan dalam beberapa hal ke Inggris. Pada saat ini, kelas pekerja merasa tak memiliki kepemimpinan dan, memang, sangat sulit rasanya mengharapkan kepemimpinan yang independen bagi kelas pekerja dari “komunis” yang menjadi anggota Kuomintang—yang berusaha menanamkan di kepala pekerja bawah penmerintah nasionala adalah pemerintah semua kelas… Dengan konsep tersebut, kita menyelewengkan diri kita sendiri bukan sebagai kekuatan kelas dalam sejarah, tapi sekadar inspektorat tanpa-kelas dalam merespon proses sejarah secara keseluruhan. Dan, tentu saja, kita akan jatuh dengan muka terbentur terlebih dahulu. Perubahan tersebut, nampaknya, akan terjadi dengan didudukinya Shanghai. (Trotsky, A Brief Note, ibid, hal. 125-126) Tiga minggu kemudian ramalan Trotsky terbukti secara tragis.
|
Catatan KPRM-PRD
Asal-usul Krisis Ekonomi, Politik, dan Budaya Indonesia.
A. Kolonialisme 350 tahun: Warisan kolonialisme pada Indonesia Merdeka.B. Kekalahan kubu “sosialisme ala Indonesia” (kubu mobilisasi massa buruh-tani) pada tahun 1965 (yang mencari jalan kerakyatan untuk membangun Indonesia yang tidak tergantung pada imperialis) sehingga memungkinkan (i) pendirian rejim Orde Baru; dan (ii) ekonomi kapitalis yang tak berindustri; serta terutama (iii) penghancuran capaian-capaian revolusi nasional demokratik Indonesia selama 1900-1965 di atas kekalahan kubu sosialis pada tahun 1965 (rakyat harus belajar sejarah Orde Baru). Dengan kata lain, merupakan kemenangan (a) kediktatoran politik elit terhadap demokrasi mobilisasi massa dan (b) neo-kolonialisme.
C. Neo-liberalisme : Ketidakmampuan rejim politik elit ataupun ekonomi neo-kolonial membela rakyat dan negeri dari serangan globalisasi neo-liberalisme—yang merupakan bentuk ganas yang paling baru neo-kolonialisme—dan krisis kapitalisme internasional—yang kepentingannya memperbesar keuntungan dari investasi-investasinya, sehingga membutuhkan peningkatan pemerasan.
Siapa yang berjuang mati-matian, siapa yang berjuang setengah hati, dan siapa musuh-musuhnya?
Secara historis harus diketahui:A. Kekuatan sosial (kekuatan kelas) yang bergerak dari masa ke masa. Peranan pemuda, intelektual muda, pedagang miskin, buruh dan tani dalam perlawanan terhadap kolonialisme sampai tahun 1949; terhadap pembangunan gerakan “sosialisme ala Indonesia” periode 1949-65; dan dalam perlawanan terhadap Orde Baru dalam tahap-tahapnya.
B. Sejarah siapa yang mengorganisir dan memperjuangkan ide (a) aksi massa dan (b) sosialisme ala Indonesia dalam semua periode tersebut, yang juga harus menggambarkan figur dan ide-idenya, serta juga organisasi politik yang berkembang.
C. Situasi sekarang.
Secara historis harus dijelaskan:
A. Kekuatan sosial (kelas) mana yang berkepentingan dan yang mampu melawan (proletar dan mahasiswa, dengan menjelaskan kedudukan khusus dari massa mayoritas,yakni massa semi-proletar dan burjuis kecil yang melarat dan tertindas—kaum miskin kota/Marhaen desa dan kota).
B. Siapa musuh rakyat dalam negeri dan mengapa: sisa-sisa Orde Baru, militer, reformis gadungan, nasionalis gadungan, yang semuanya berdiri di atas kepentingan kelas kapitalis dalam negeri dengan semua konflik-konfliknya. Siapa musah luar negeri: imperialis, pemerintah-pemrintah imperialis, lembaga finansial internasional, perusahaan MNC dan bank-bank internasional.
C. Siapa sekutu strategis dalam dan luar negeri, baik secara kelas maupun organisasi. Dalam menjelaskan aspek organisasi dalam negeri harus disertai dengan penjelasan yang teliti, peka, rendah hati tapi ilmiah terhadap situasi fragementasi kepeloporan. Sekutu strategis adalah calon mitra persatuan.
D. Siapa sekutu taktis: ini berubah dari waktu ke waktu, bisa kekuatan sosial (kelas atau suatu bagian dari sebuah kelas), bisa individu, bisa organisasi.


