Home Arah STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (VII)
Bookmark and Share
Arah
STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (VII) PDF
Oleh Doug Lorimer   

Mao

Reaksi Di Moscow

Respon pimpinan Komintern terhadap kup Chiang pada 12 April, 1927, malah lebih menegaskan lagi kebutuhan untuk tetap melanjutkan kebijakan mendukung Kuomintang, dan saat ini harapannya tinggal pada “Kuomintang yang revolusioner, Kuomintang tanpa Chiang Kai-shek.” (Pravda, 15 April, 1927) Bahkan, dalam rangka melawan kritikan (Oposisi di dalam CPSU) atas kebijakannya, kepemimpinan Stalinis meresponnya dengan memberikan pembenaran “teoritis” yang lebih terperinci atas kebijakan mereka.

Dua hari sebelum kup Chiang, Pravda memuat sebuah artikel dari Aleksander Martynov, pimpinan teoritikus Menshevik pada tahun 1905, yang telah dirangkul kembali oleh CPSU sejak tahun 1923 dan dipromosikan pada sekretariat ECCI untuk urusan ketimuran. Dalam artikelnya pada tanggal 10 April, Martynov secara umum menyerang Radek karena menolak segala usaha yang penting dalam perjuangan melawan imperialisme di Cina. Martynov mengklaim bahwa kaum borjuis Cina “tidak mungkin” mengkhianati kaum pekerja Cina karena “membutuhkan mereka dalam perjuangan melawan imperialism asing”, dan menyatakan bahwa pemerintahan Kuomintang sebagai “Pemerintahan yang melibatkan 4 blok kelas.” Dia berpendapat bahwa langkah mempertahankan “4 blok kelas” (borjuis-nasionalis, kaum pekerja, borjuis-kecil perkotaan dan kaum tani) merupakan kunci sukses atas revolusi demokrasi nasional di Cina.

Apa arti dari kebijakan “4 blok kelas” tersebut, dalam prakteknya, telah disinggung oleh Martynov dalam sebuah artikel yang dimuat dalam jurnal Komintern sebelumnya, awal tahun 1927. Saat melaporkan hasil-hasil dari plenum ECCI yang ke tujuh (diselenggarakan pada bulan Desember, 1926), Martynov berpendapat bahwa pada tahun 1919 “kaum borjuis industrial dan kaum borjuis terpelajar” telah mengambil inisiatif di Cina untuk melancarkan perjuangan melawan imperialisme. Komunis Cina tidak bisa begitu saja memperlakukan mereka dengan landasan kebijakan yang dituangkan pada revolusi Bolshevik pada tahun 1905. Partai Komunis Cina seharusnya “tidak mencoba menciptakan penghalang bagi tentara revolusioner yang dikomandani oleh jendral borjuis atau pemerintah nasional, bahkan sebaliknya, mendukung kerja mereka.” Melalui dukungan semacam itulah kaum Komunis dapat memastikan bahwa “pemerintah nasional akan secara konsisten mempraktekkan kebijakan yang sesuai dengan seluruh kepentingan baik buruh, petani maupun borjuis-kecil.” (dikutip dalam Carr, ibid, hal. 736)

Artikel Martynov, yang dimuat di Pravda pada tanggal 10 April, samasekali tidak keberatan terhadap kepemimpinan Stalin-Bukharin. Apalagi, hal tersebut telah mendapat persetujuan dari (imigran) pimpinan Menshevik di Paris. Pada tanggal 23 April, pemimpin Menshevik, Fyodor Dan, memberikan dukungan pada serangan Martynov atas Radek:

“Secara prinsipil”, Bolsheviks mendukung “front persatuan” revolusi Cina hingga bisa menyelesaikan tugasnya: pembebasan nasional. Pada tanggal 10 April, Martynov, di Pravda, dengan ampuh sekali—walaupun tidak dengan cara-cara keras layaknya Sosial Demokrasi—namun dengan “tata krama Menshevik”, telah menunjukkan pada Radek si Oposisi “kiri” kebenaran posisi “resmi”, yakni benar-benar tetap berpegang teguh mempertahankan posisi “blok empat kelas,” tidak mempercepat penggulingan koalisi pemerintah di mana kaum buruh dapat duduk bersisian dengan borjuis besar… (dikutip dalam Trotsky, The Chinese Revolution and the Theses of Comrade Stalin,” Leon Trotsky on China, hal. 165)

Dalam sebuah artikel yang ditulis pada tanggal 7 Mei, yang tidak boleh dipublikasikan oleh Politbiro CPSU, Trotsky menulis:

Filosopi Martynov tak berani membongkar (samapai pada kesimpulan logisnya) seluruh kesalahan Stalin dan Bukharin dalam hal kebijakan Cina, samasekali tak merasa keberatan. Walalupun hal tersebut sama dengan menginjak-injak prinsip-prinsip fundamental Marxisme. Hal tersebut sama dengan memamah biak wajah paling kasar Rusia dan Menshevisme Internasional, yang diterapkan pada revolusi Cina…

Taktik usang Menshevik dari 1905-1917, yang telah remuk diinjak-injak oleh rentetan berbagai peristiwa (tidak terbukti kebenarannya dalam berbagai kejadian), sekarang sedang ditransfer ke Cina oleh aliran pikiran Martynov, banyak kesamaannya dengan cara kapitalis memperdagangkan sampah barang dagangannya yang paling rendah mutunya, yang tak mendapat pasar di negeri induknya dan melemparkannya ke negri koloninya. Barang dagangan tersebut bahkan tidak pernah diperbaiki sebelum dikirimkan. Argumennya sama, sekadar menjiplak, persis sebagaimana 20 tahun yang lalu. Sekadar mengganti kata otokrasi dengan kata imperialisme. Sebenarnya, imperialisme Inggris berbeda dengan otokrasi. Tapi referensi Menshevik tentang imperialisme Inggris tak ada bedanya dengan referensinya mengenai otokrasi. Memang, perjuangan melawan imperialisme asing banyak kesamaannya dengan perjuangan kelas. Tapi, tentu saja, pendapat tersebut tak bisa dirasuki hantu gagasan front persatuan nasional, jauh lebih elok dari itu, dan itu dibuktikan oleh peristiwa April berdarah, sebagai konsekuensi langsung dari kebijakan blok empat kelas.

“Blok-blok” semacam itu melekat dalam sejarah revolusioner maupun parlementer negeri-negeri brjuis: borjuis-borjuis besar memimpin kaum democrat borjuis-kecil—para pembual front persatuan nasional—di belakangnya dan, pada gilirannya, membingungkan kaum buruh dan menyeretnya jauh di belakang kaum borjuis. Ketika “ekor” proletar tersebut—berbeda dengan upaya para pembual borjuis kecil tersebut—mulai bergerak (terlalu) kea rah kekerasan, maka kaum borjuis meminta jendralnya untuk menindasnya. Kemudian kaum oportunis mengamatinya tanpa ada rasa bersalah dan mengatakan bahwa kaum borjuis telah “mengkhianati” kepentingan nasional. (Trotsky, ibid, hal. 165-167).

Pada sebuah pertemuan Komite Sentral CPSU, 13-16 April, 1927, keputusan Politbiro dalam masalah Cina disyahkan oleh mayoritas faksi Stalinis. Tesis oposisi, yang dirancang oleh Zinoviev, yang menyerukan untuk kembali pada kebijakan Leninis tentang gerakan pembebasan nasional di Cina—sebagaimana yang telah dirancang dalam konggres kedua dan ke empat

 

Catatan KPRM-PRD

Asal-usul Krisis Ekonomi, Politik, dan Budaya Indonesia.

A. Kolonialisme 350 tahun: Warisan kolonialisme pada Indonesia Merdeka.
B. Kekalahan kubu “sosialisme ala Indonesia” (kubu mobilisasi massa buruh-tani) pada tahun 1965 (yang mencari jalan kerakyatan untuk membangun Indonesia yang tidak tergantung pada imperialis) sehingga memungkinkan (i) pendirian rejim Orde Baru; dan (ii) ekonomi kapitalis yang tak berindustri; serta terutama (iii) penghancuran capaian-capaian revolusi nasional demokratik Indonesia selama 1900-1965 di atas kekalahan kubu sosialis pada tahun 1965 (rakyat harus belajar sejarah Orde Baru). Dengan kata lain, merupakan kemenangan (a) kediktatoran politik elit terhadap demokrasi mobilisasi massa dan (b) neo-kolonialisme.
C. Neo-liberalisme : Ketidakmampuan rejim politik elit ataupun ekonomi neo-kolonial membela rakyat dan negeri dari serangan globalisasi neo-liberalisme—yang merupakan bentuk ganas yang paling baru neo-kolonialisme—dan krisis kapitalisme internasional—yang kepentingannya memperbesar keuntungan dari investasi-investasinya, sehingga membutuhkan peningkatan pemerasan.

Siapa yang berjuang mati-matian, siapa yang berjuang setengah hati, dan siapa musuh-musuhnya?

Secara historis harus diketahui:
A. Kekuatan sosial (kekuatan kelas) yang bergerak dari masa ke masa. Peranan pemuda, intelektual muda, pedagang miskin, buruh dan tani dalam perlawanan terhadap kolonialisme sampai tahun 1949; terhadap pembangunan gerakan “sosialisme ala Indonesia” periode 1949-65; dan dalam perlawanan terhadap Orde Baru dalam tahap-tahapnya.
B. Sejarah siapa yang mengorganisir dan memperjuangkan ide (a) aksi massa dan (b) sosialisme ala Indonesia dalam semua periode tersebut, yang juga harus menggambarkan figur dan ide-idenya, serta juga organisasi politik yang berkembang.
C. Situasi sekarang.
Secara historis harus dijelaskan:
A. Kekuatan sosial (kelas) mana yang berkepentingan dan yang mampu melawan (proletar dan mahasiswa, dengan menjelaskan kedudukan khusus dari massa mayoritas,yakni massa semi-proletar dan burjuis kecil yang melarat dan tertindas—kaum miskin kota/Marhaen desa dan kota).
B. Siapa musuh rakyat dalam negeri dan mengapa: sisa-sisa Orde Baru, militer, reformis gadungan, nasionalis gadungan, yang semuanya berdiri di atas kepentingan kelas kapitalis dalam negeri dengan semua konflik-konfliknya. Siapa musah luar negeri: imperialis, pemerintah-pemrintah imperialis, lembaga finansial internasional, perusahaan MNC dan bank-bank internasional.
C. Siapa sekutu strategis dalam dan luar negeri, baik secara kelas maupun organisasi. Dalam menjelaskan aspek organisasi dalam negeri harus disertai dengan penjelasan yang teliti, peka, rendah hati tapi ilmiah terhadap situasi fragementasi kepeloporan. Sekutu strategis adalah calon mitra persatuan.
D. Siapa sekutu taktis: ini berubah dari waktu ke waktu, bisa kekuatan sosial (kelas atau suatu bagian dari sebuah kelas), bisa individu, bisa organisasi.